Upaya Lewis Hamilton untuk membawa Formula 1 kembali ke tanah Afrika akhirnya menunjukkan titik terang yang signifikan. Alih-alih kembali ke sirkuit bersejarah Kyalami di Afrika Selatan, ajang balap jet darat paling bergengsi di dunia ini justru semakin mantap mengarah ke Rwanda dengan target penyelenggaraan pada musim 2030 mendatang.
Bagi pembalap anyar Scuderia Ferrari tersebut, kabar ini menjadi sebuah pencapaian personal yang luar biasa setelah bertahun-tahun secara konsisten mendorong para petinggi Formula 1 di balik layar. Peraih tujuh gelar juara dunia ini bahkan sempat mengutarakan niatnya untuk menunda masa pensiun hingga kalender balap resmi menyambangi benua Afrika.
Dalam pernyataannya, Hamilton menegaskan betapa krusialnya kehadiran grand prix di wilayah tersebut demi masa depan kejuaraan dunia. Benua hitam dinilai menyimpan potensi besar dan keindahan yang layak disaksikan oleh penggemar global motorsport secara langsung setiap tahunnya.

"Saya selalu bilang bahwa kita harus punya grand prix di Afrika," ujar Hamilton. "Bagi saya, itu adalah benua yang paling penting, sejujurnya, dan juga benua yang paling indah."
Di sisi lain, Menteri Olahraga, Kesenian, dan Kebudayaan Afrika Selatan, Gayton McKenzie, dengan lapang dada mengakui kekalahan dalam persaingan bidding ini. Ia menyampaikan apresiasi kepada pihak Rwanda yang telah bekerja keras dan menunjukkan komitmen jangka panjang yang luar biasa demi mewujudkan mimpi balapan Formula 1 di negeri mereka.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!