Max Verstappen melayangkan kritik tajam terhadap keputusan Formula 1 yang menggelar balapan sprint di sirkuit-sirkuit yang dinilai tidak memungkinkan untuk melakukan aksi salip-menyalip sepanjang akhir pekan kompetisi.
Juara dunia empat kali tersebut baru saja keluar sebagai pemenang dalam balapan sprint yang penuh insiden di Grand Prix Singapura, mengungguli Lewis Hamilton dari Ferrari setelah George Russell mengalami kecelakaan saat memimpin di lap kedua.
Ajang ini menandai balapan sprint perdana yang pernah diadakan di Singapura, seiring langkah F1 merotasi venue tuan rumah untuk enam agenda format sprint pada tahun 2026. Terlepas dari kekacauan yang dipicu oleh hujan deras penunda start, jalannya lomba di barisan depan minim aksi overtaking berarti.

"Saya pikir kita seharusnya tidak mengadakan sprint di tempat di mana Anda tidak bisa mendahului," ujar Verstappen yang kini memegang rekor sebagai pembalap tersukses dalam format sprint dengan koleksi 14 kemenangan.
Lebih lanjut, pembalap asal Belanda ini menyoroti regulasi teknis saat ini yang dinilai membatasi peluang manuver di trek lurus. Menurutnya, penggunaan mode menyusup dan konfigurasi baterai saat ini tidak memberikan dampak signifikan untuk menciptakan selisih kecepatan yang memadai antarmobil.
Kritik serupa juga dilontarkan oleh Charles Leclerc yang finis di posisi ketiga podium. Leclerc menilai penambahan jumlah balapan sprint menjadi 10 seri untuk musim 2027—termasuk rencana menggelar sprint di Monako—sebagai keputusan yang dipertanyakan karena karakteristik sirkuit jalan raya yang mustahil untuk menyalip.
"Saya tidak merasa masuk akal untuk mengadakan balapan sprint di sirkuit jalan raya secara umum. Kita seharusnya menggunakan trek di mana sangat mudah menyalip sehingga menambah tontonan menarik," pungkas Leclerc.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!