Situasi internal yang membelit Esteban Ocon di dalam garasi tim Haas mendadak menjadi sorotan utama di paddock Formula 1. Mantan juara dunia F1, Jenson Button, secara terbuka menyatakan rasa frustrasinya terhadap perkembangan situasi yang melibatkan pembalap asal Prancis tersebut, seraya menyebut bahwa insiden ini berisiko menutup peluang Ocon untuk melanjutkan kariernya di ajang balap jet darat paling bergengsi di dunia.
Sebelumnya, Haas telah mengumumkan pada akhir September bahwa Ocon dipastikan akan meninggalkan tim pada penghujung kampanye musim ini, sekaligus mengakhiri kebersamaan dua tahun mereka. Tak lama berselang, skuad asal Amerika Serikat tersebut mengonfirmasi perekrutan pembalap debutan Rafael Camara yang diproyeksikan mendampingi Oliver Bearman untuk musim mendatang, sebuah dinamika yang dinilai Button sangat berat untuk diterima oleh seorang pembalap profesional.
Ketegangan mencapai puncaknya pada Sabtu pagi di Mexico City, di mana pihak tim secara mengejutkan mengonfirmasi bahwa Ocon langsung dicadangkan untuk sisa akhir pekan balapan. Peran sang pembalap kemudian digantikan oleh Ryo Hirakawa. Meskipun Haas tidak membeberkan alasan resmi di balik keputusan mendadak tersebut, manajemen menegaskan bahwa keputusan ini sama sekali tidak berkaitan dengan masalah kesehatan sang pembalap.

Spekulasi sempat merebak terkait dugaan perselisihan fisik dengan Prinsipal Tim Ayao Komatsu, meski tuduhan tersebut telah dibantah secara tegas. Namun, benang merah ketegangan tampak jelas ketika Ocon sempat meluapkan kekesalannya via radio tim pada sesi latihan bebas kedua (FP2) akibat perbedaan pendapat mengenai penggunaan kompon ban medium yang bertentangan dengan keinginannya untuk memakai ban lunak.
Menanggapi insiden tersebut, Button melontarkan kritik tajam terhadap cara penanganan situasi oleh sang pembalap. "Hal terbaik yang harus dia lakukan demi kepentingan utamanya sendiri adalah membalap semaksimal mungkin, bekerja sekeras mungkin, dan membuktikan betapa hebat kemampuannya," ujar Button kepada Sky F1. "Dia sudah tak bisa lagi mengulangi tindakan itu hanya gara-gara silang pendapat soal pemilihan ban saat sesi latihan. Situasi tersebut bahkan bukan terjadi di sesi kualifikasi atau balapan, melainkan sekadar sesi latihan bebas. Hal itulah yang membuat saya merasa sangat jengkel saat menyaksikannya. Ini adalah kumpulan 22 pembalap terbaik di dunia yang tidak meraih kesempatan emas ini dengan mudah, dan ia nyaris saja menghancurkan sisa kariernya di Formula 1."



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!