MotoGP, Sportrik Media - Jack Miller melontarkan pujian setinggi langit kepada Fabio Quartararo usai menjalani musim MotoGP 2025 bersama Yamaha. Pebalap Australia itu menilai sang juara dunia 2021 sebagai rider yang “bertabur bakat”, khususnya dalam sesi kualifikasi, namun mengakui motor Inline M1 membuat balapan menjadi sangat sulit, terutama saat harus menyalip di tengah rombongan.
Musim 2025 menjadi tahun terakhir Yamaha menggunakan mesin inline sebelum beralih ke mesin V4 pada 2026. Dalam musim perpisahan tersebut, Quartararo tampil sebagai pebalap Yamaha terbaik dengan finis delapan posisi lebih tinggi dibanding Miller sebagai rider M1 terbaik berikutnya bersama tim Pramac Racing.

Selain itu, Quartararo menjadi satu-satunya pebalap Yamaha yang meraih podium sepanjang musim dan nyaris memenangkan MotoGP Inggris 2025. Sementara itu, Miller mencatat hasil terbaik finis keempat, sedangkan Alex Rins finis ketujuh dan Miguel Oliveira finis kesembilan.

Namun, keunggulan Quartararo paling mencolok terlihat dalam kualifikasi. Mantan juara dunia itu mengoleksi lima pole position sepanjang musim, hanya kalah dari Marc Marquez, serta menempati posisi ketiga klasemen BMW Award di bawah duet Ducati, Marc dan Alex Marquez.
Sebaliknya, Miller yang menjadi pebalap Yamaha terbaik kedua dalam kualifikasi hanya mampu finis di posisi ke-12 klasemen kualifikasi Sabtu pagi. Meski demikian, ia mencatat momen terbaiknya dengan start baris depan bersama Quartararo di Phillip Island.
“Aku sudah lama berteman dengan Fabio, jadi menyenangkan bisa bekerja bersama. Tapi tentu saja, dia adalah orang pertama yang ingin kamu kalahkan, dan sebaliknya,” ujar Miller.
Pebalap yang juga pernah membela Ducati, KTM, dan Honda itu menggambarkan Quartararo sebagai pembalap spesial dengan bakat luar biasa dalam satu lap cepat, namun harus berjuang keras ketika berada di tengah rombongan.
“Untuk satu lap, dalam hal bakat, dia benar-benar bertabur talenta. Sayangnya, motor ini tidak terlalu menyenangkan untuk dipakai balapan,” jelas Miller.
Menurutnya, Yamaha Inline M1 menuntut gaya berkendara yang sangat spesifik dan tidak ramah ketika harus berpindah racing line atau menyiapkan manuver menyalip.
“Motor ini tidak suka berpindah jalur. Kamu tidak bisa mengerem sedikit lebih dalam atau menyiku tikungan untuk melindungi racing line. Jika ingin menyiapkan manuver overtake, itu nyaris mustahil kecuali ada kesalahan dari lawan,” lanjutnya.
Karena itulah Miller menilai frustrasi Quartararo selama balapan sangat bisa dimengerti, mengingat performa luar biasanya di kualifikasi tidak selalu bisa dikonversi menjadi hasil balapan.
“Itulah sebabnya saya percaya, dengan kualifikasinya, jika dia punya motor yang bisa bertarung dan bertahan sedikit lebih baik, hidupnya akan jauh lebih mudah,” tegasnya.
Sebagai pebalap berpengalaman yang telah membela berbagai pabrikan, Miller juga mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari data Quartararo. Selama kariernya, ia telah membandingkan telemetri dengan nama-nama besar seperti Marc Marquez dan Francesco Bagnaia.
“Melihat data Fabio itu sangat menarik. Menyenangkan memahami apa yang dia lakukan secara berbeda dibandingkan Pecco atau Marc. Itu membantu saya belajar dan berkembang,” ujar Miller, yang telah mengoleksi empat kemenangan dan 23 podium di kelas MotoGP.
Dengan Yamaha bersiap memasuki era baru bersama mesin V4 pada 2026, banyak pihak menilai masa depan Quartararo bisa berubah drastis. Jika motor barunya mampu mempertahankan keunggulan kualifikasi sekaligus meningkatkan performa balapan, sang juara dunia berpeluang kembali menjadi ancaman serius dalam perebutan gelar.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!