Lewis Hamilton menyalahkan regulasi mesin Formula 1 2026 sebagai penyebab insiden nyaris tabrakan dengan Liam Lawson dari Racing Bulls pada sesi latihan kedua Grand Prix Azerbaijan di Sirkuit Baku. Insiden terjadi ketika Hamilton yang sedang menjalani out-lap di sektor akhir tiba-tiba melambat akibat kehabisan energi baterai, sementara Lawson sedang dalam putaran cepat.
Hamilton, pembalap Ferrari, menjelaskan bahwa pada out-lap menjelang putaran cepat, ia tidak memiliki deployment daya listrik (K) sehingga hanya mengandalkan mesin pembakaran internal (ICE) yang membuat tenaganya berkurang sekitar 500 bhp. "Dengan aturan yang ada, saat Anda keluar dari tikungan terakhir untuk memulai putaran, Anda tidak punya K, tidak ada deployment baterai. Anda hanya punya ICE, jadi tenaganya berkurang sekitar 500bhp," ujar Hamilton.
Ia menambahkan bahwa tidak ada panduan jelas mengenai jarak aman yang harus dijaga untuk mengantisipasi perbedaan kecepatan dengan pembalap yang sedang dalam putaran cepat. "Saya berada empat detik di depan, saya pikir itu cukup. Saya berpikir 'ini sepertinya cukup besar', lalu saya menambah gas dan saat masuk tikungan 18, defisit kecepatannya sangat besar dan tidak ada tempat untuk menghindar. Sangat disayangkan, tapi ini memberi kami panduan bagus untuk perubahan besok," jelasnya.

Insiden ini memicu kemarahan Lawson yang langsung melaporkan Hamilton melalui radio tim. "Ya Tuhan, itu sangat berbahaya," ujar Lawson. Insiden tersebut kini dalam penyelidikan steward, dan kedua pembalap dipanggil untuk memberikan keterangan. Hamilton mengaku pengalaman menghadap steward tidak menyenangkan. "Ketika Anda menghadap steward, mereka memiliki seperangkat aturan yang harus diikuti, tapi itu seperti interogasi. Anda duduk di ruangan dengan sekitar enam orang dan mereka berkata 'berikan pandanganmu'. Itu pengalaman yang sangat tidak menyenangkan," tambahnya.
Hamilton menegaskan bahwa insiden ini bukan kesalahan pembalap, melainkan konsekuensi dari keputusan FIA terkait regulasi mesin 2026. "Itu bukan kesalahan pembalap. Itu adalah apa yang dilakukan FIA dengan keputusan di awal tahun dan kami sebagai pembalap berusaha mengelola yang terbaik di lintasan untuk menemukan celah yang tepat dan tidak menghalangi orang lain," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengusulkan solusi agar pembalap tetap memiliki tenaga maksimal di tikungan terakhir sebelum putaran cepat. "Salah satu proposal adalah ketika Anda berada di putaran dan melewati tikungan terakhir, Anda memiliki tenaga maksimal sepanjang tikungan 18 dan 19, lalu reset setelah tikungan 19. Ada sirkuit di mana Anda tidak diizinkan melambat di seksi tertentu dan mereka harus memberi kami tenaga di seksi itu, sehingga bahkan pada putaran lambat, Anda harus tetap menekan gas penuh dan tidak akan menghalangi siapa pun," paparnya.
Pembalap tujuh kali juara dunia itu berharap diskusi dalam pertemuan pembalap dapat menghasilkan kesepakatan untuk mencegah insiden serupa terulang. "Kami akan membahasnya di pertemuan pembalap dan semoga kami mencapai semacam kesepakatan," tutupnya. Sementara itu, insiden ini menjadi sorotan menjelang kualifikasi dan balapan, karena keselamatan pembalap menjadi prioritas utama.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!