Formula 1, Sportrik Media - Fred Vasseur menegaskan bahwa Ferrari masih menghadapi defisit performa signifikan terhadap Mercedes pada awal musim Formula 1 2026, meskipun terdapat wacana perubahan regulasi terkait rasio kompresi mesin.
Mercedes tampil dominan dalam dua seri pembuka musim dengan meraih kemenangan ganda serta hasil maksimal di Sprint China, menciptakan keunggulan 31 poin atas Ferrari di klasemen konstruktor. Secara individual, George Russell dan Kimi Antonelli memimpin klasemen pembalap, memperkuat posisi tim sebagai tolok ukur performa saat ini.

Ferrari menunjukkan daya saing pada fase awal balapan, khususnya saat start, di mana karakter turbo lebih kecil pada SF-26 memberikan akselerasi awal yang lebih responsif. Hal ini memungkinkan Lewis Hamilton dan Charles Leclerc untuk bersaing langsung dengan Mercedes dalam beberapa lap pertama. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama ketika Mercedes mampu keluar dari jangkauan satu detik.

Dalam konteks regulasi 2026, sistem overtake boost yang aktif dalam jarak satu detik menjadi faktor penting dalam menjaga kompetisi awal. Namun setelah Mercedes membangun gap lebih dari satu detik, Ferrari kesulitan mempertahankan ritme balapan akibat defisit performa dasar.
“Di awal kami bisa bertarung dengan Mercedes. Selama berada dalam satu detik, kami bisa memanfaatkan boost tambahan dan menjaga pace,” ujar Fred Vasseur.
“Tetapi begitu mereka membuka jarak satu detik, segalanya menjadi jauh lebih sulit. Setelah 10 lap pertama, kami kembali ke selisih empat hingga lima persepuluh detik per lap.”
Vasseur juga menyoroti bahwa Ferrari masih memiliki kekurangan utama pada kecepatan lurus, yang berkaitan dengan efisiensi unit tenaga dan paket aerodinamika. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa tim menunjukkan progres bertahap dalam memahami karakter mobil.
“Kami sebelumnya tertinggal delapan persepuluh di Melbourne, kemudian enam persepuluh pada hari Jumat di China, dan empat persepuluh pada Sabtu. Kami terus memahami situasi dan memperkecil jarak, tetapi mereka masih cukup jauh di depan,” tambahnya.
Dalam analisis teknis, Vasseur menolak memisahkan secara tegas antara kontribusi sasis dan mesin terhadap performa keseluruhan. Menurutnya, regulasi baru membuat kedua aspek tersebut semakin terintegrasi.
“Sekarang mobil lebih merupakan satu paket gabungan antara sasis dan mesin, bukan dua elemen terpisah. Sangat sulit untuk memisahkannya,” jelasnya.
Sementara itu, wacana perubahan regulasi terkait rasio kompresi mesin menjadi perhatian di paddock. Beberapa tim menilai Mercedes memanfaatkan celah regulasi dengan rasio kompresi yang lebih tinggi dalam kondisi operasional dibandingkan pengukuran standar.
Mulai 1 Juni 2026, pengukuran rasio kompresi akan dilakukan dalam kondisi dingin dan pada suhu operasional 130 derajat Celsius, sebelum kemudian sepenuhnya beralih ke metode tersebut pada 2027. Namun, Vasseur tidak melihat perubahan ini sebagai solusi utama bagi Ferrari.
“Saya tidak yakin perubahan aturan rasio kompresi akan menjadi game changer besar,” ujarnya.
“Pengenalan ADUO mungkin memberikan peluang bagi kami untuk mendekat, tetapi performa bukan hanya soal satu aspek. Ada banyak faktor seperti manajemen energi dan sasis. Fokus hanya pada satu parameter akan menjadi kesalahan.”
Dengan gap performa yang masih berada di kisaran empat hingga lima persepuluh detik per lap, Ferrari kini menghadapi tantangan kompleks dalam mengejar Mercedes. Fokus pengembangan akan mencakup peningkatan efisiensi unit tenaga, optimalisasi aerodinamika, serta integrasi keseluruhan paket mobil.
Memasuki seri-seri berikutnya, efektivitas upgrade teknis dan adaptasi terhadap perubahan regulasi akan menjadi penentu apakah Ferrari mampu menutup selisih dengan Mercedes sebelum musim memasuki fase yang lebih menentukan.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!