SPONSORED

Formula E London: Tim Order dan Dendam Pribadi, Terlalu Jauh?

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Formula E London: Tim Order dan Dendam Pribadi, Terlalu Jauh? TO NEWS OVERVIEW
Formula E London: Tim Order dan Dendam Pribadi, Terlalu Jauh?

Final London Formula E akhir pekan lalu menjadi panggung duel sengit antara dua raksasa, Jaguar dan Porsche, dalam perebutan gelar juara. Namun, aksi di lintasan memicu perdebatan: apakah yang terjadi masih dalam batas sportivitas dan etika?

Seri penentu di ExCeL ini memang selalu punya sejarah dramatis. Kali ini, hingga sembilan pembalap masih punya peluang matematis untuk jadi juara. Tapi yang terjadi justru lebih dari sekadar balapan individu. Jaguar dan Porsche mengerahkan seluruh tim utama, bahkan tim pelanggan, untuk memengaruhi hasil.

Pada Sabtu, Porsche langsung menunjukkan taringnya. Nico Muller dan bahkan Dan Ticktum dari Cupra Kiro membantu Pascal Wehrlein. Padahal, kecepatan Wehrlein sebenarnya cukup untuk menang sendirian. Namun, taktik ini memaksa Evans mengambil strategi berbeda yang berujung pada kompromi besar saat VSC dikerahkan. Bagi Porsche, ini sukses besar.

Nato dan Gunther Resmi Tinggalkan Tim Formula E di Musim Gen4
Baca JugaNato dan Gunther Resmi Tinggalkan Tim Formula E di Musim Gen4

Jaguar, yang merasa dirugikan, membalas pada Minggu dengan pertahanan Antonio Felix da Costa yang jauh lebih agresif, bahkan nyaris melewati batas. Tapi esensinya sama: kedua tim punya niat yang sama. Jadi, sulit menyalahkan satu pihak tanpa melihat pihak lain.

ADVERTISEMENT

Hasilnya, balapan terasa seperti ajang DTM, di mana manipulasi strategi pabrikan sudah biasa. Meski tidak separah final Norisring 2021 yang kontroversial, tetap meninggalkan rasa pahit. Wehrlein sendiri sempat bilang pada Jumat bahwa dia tidak suka taktik tim, tapi justru diuntungkan olehnya. Ironis, tapi keputusan ada di tim, dan pembalap wajib patuh.

Yang membuat situasi lebih panas, duel Wehrlein vs Da Costa berubah personal. Hubungan mereka yang sempat renggang saat menjadi rekan setim dulu, kembali memanas. Balapan ini bukan hanya soal gelar, tapi juga gengsi dan dendam lama.

Formula E memang selalu penuh drama, tapi apakah cara ini benar? Pertanyaan itu akan terus menggantung, terutama bagi mereka yang menginginkan persaingan yang adil di atas segalanya.

ADVERTISEMENT

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Aman, Cepat & Terenkripsi

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

RECOMMENDED FOR YOU