Yuki Tsunoda akhirnya angkat bicara soal penyebab kegagalannya menguasai mobil Red Bull RB21 sepanjang musim 2025. Dalam podcast Beyond The Grid, pembalap Jepang itu mengaku hingga akhir musim masih belum memahami karakter mobil yang membawanya finis ke-17 di klasemen pembalap.
Kepindahan Tsunoda ke Red Bull Racing pada 2025 seharusnya menjadi panggung pembuktian. Setelah Liam Lawson hanya bertahan dua balapan, Tsunoda mendapat kesempatan emas mendampingi Max Verstappen. Namun, harapan itu berubah mimpi buruk. Dari 27 sesi kualifikasi, ia hanya delapan kali lolos Q3, sembilan kali tersingkir di Q2, dan sepuluh kali terhenti di Q1. Ia hanya sekali mengalahkan Verstappen dalam kualifikasi, dengan selisih rata-rata 0,6 detik.
“Biasanya saya bisa memahami mobil, apa yang saya kemudikan, karakteristiknya,” ujar Tsunoda. “Tapi rasanya bahkan setelah Abu Dhabi, saya tidak tahu mobil apa yang saya kemudikan. Saya masih tidak mengerti apa masalahnya dan hal apa yang membuat saya sangat kesulitan mempelajari mobil ini.”

Kesulitan Tsunoda bukan tanpa alasan. Mobil Red Bull RB21 dikenal memiliki grip depan yang kuat dan cenderung oversteer—karakter yang sebenarnya disukai Tsunoda. “Saya pribadi suka mobil yang berbelok agresif,” akunya sebelum debut. “Tapi ternyata adaptasi tidak semudah yang saya kira.”
Perbedaan mencolok terlihat dari raihan poin. Verstappen mengumpulkan 385 poin dan delapan kemenangan, sementara Tsunoda hanya 30 poin dengan hasil terbaik finis keenam di Baku. Kontras ini menempatkan Tsunoda dalam posisi sulit, terutama karena Max Verstappen selalu tampil kompetitif.
Tekanan di tim sekelas Red Bull memang luar biasa. Setiap pembalap dituntut langsung tampil cepat, tanpa banyak waktu adaptasi. Tsunoda mengakui kehilangan kepercayaan diri di beberapa balapan. “Saya pikir kepercayaan diri sudah ada, tapi di beberapa balapan entah bagaimana hilang,” tambahnya.
Kasus Tsunoda mengingatkan pada Felipe Massa di Ferrari 2012, yang juga kesulitan bersaing dengan Fernando Alonso. Bedanya, Tsunoda tidak mendapat kesempatan memperbaiki keadaan. Kini, ia harus menerima kenyataan pahit: kehilangan kursi di F1 untuk 2026.
Analisis menunjukkan bahwa mobil RB21 mungkin terlalu sensitif terhadap gaya mengemudi tertentu. Verstappen mampu beradaptasi dengan cepat, sementara Tsunoda butuh waktu yang tidak dimilikinya. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga tentang betapa sulitnya menjadi rekan setim juara dunia.




Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!