SPONSORED

Rencana Sulayem Kembalikan Refueling F1 Picu Kritik Tim

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Rencana Sulayem Kembalikan Refueling F1 Picu Kritik Tim
TO NEWS OVERVIEW
Rencana Sulayem Kembalikan Refueling F1 Picu Kritik Tim

Wacana kembalinya sistem pengisian bahan bakar (refueling) di tengah balapan kembali mencuat di paddock Formula 1, seiring dorongan Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem untuk merevisi regulasi mesin dalam waktu dekat. Ide yang masih sebatas usulan ini langsung menuai respons beragam dari sejumlah prinsipal tim, yang menilai langkah tersebut justru berpotensi mengurangi elemen kejutan dalam strategi balapan.

Menurut rencana awal, FIA membidik pengenalan mesin V8 yang tetap menggunakan sumber tenaga listrik namun dalam porsi lebih kecil, semacam Mohammed Ben Sulayem mengusulkan era baru yang mengingatkan pada sistem KERS yang sempat dipakai pada 2009-2013. Jika terealisasi, regulasi ini akan menutup babak panjang era mesin turbo-hibrida yang telah mendominasi sejak 2014.

Namun, gagasan untuk menghidupkan kembali praktik refueling yang sempat dilarang sejak 2010 justru mendapat tentangan dari sejumlah prinsipal. James Vowles, prinsipal Williams, menegaskan bahwa kembalinya pengisian bahan bakar justru akan membuat jalannya balapan semakin mudah ditebak, bukan sebaliknya.

Second ADUO Check Awaited Before Monza, Red Bull Hopes for Green Light
Read AlsoSecond ADUO Check Awaited Before Monza, Red Bull Hopes for Green Light

“Dengan refueling, kami bisa memprediksi secara tepat kapan mobil akan masuk pit,” ujar Vowles dalam konferensi pers di Zandvoort, dikutip dari FormulaPassion. “Tim akan selalu berusaha memaksimalkan kapasitas tangki karena mobil paling cepat justru saat bahan bakar hampir habis. Akibatnya, penonton yang kini punya akses data luas akan dengan mudah membaca skenario balapan, entah itu strategi satu, dua, atau tiga kali pit stop.”

ADVERTISEMENT

Vowles menambahkan bahwa solusi yang lebih relevan untuk meningkatkan spektakel justru menekan bobot mobil secara keseluruhan. “Menurut saya, ini menghilangkan pesona balapan. Lagipula, memakai pit suit di dinding garasi itu panas, jadi saya lebih memilih tidak mengalaminya lagi,” kelakarnya.

Pendapat senada disampaikan Ayao Komatsu dari Haas. Ia menilai sistem refueling lama justru membuat balapan sulit diikuti penonton di sirkuit. “Secara pribadi saya bukan penggemar refueling. Bahkan saat menonton dari luar, pengisian bahan bakar membuat balapan membingungkan bagi penonton di tribun. Begitu pula kualifikasi,” katanya. “Saya justru suka mobil yang ringan di kualifikasi, di mana pembalap bisa tampil maksimal.”

Sementara itu, Peter Bayer, CEO Racing Bulls, mengungkapkan bahwa ide refueling sebenarnya sudah pernah dibahas dan ditolak pada masa lalu. “Saat saya masih bekerja dengan FIA, ada kelompok kerja bersama Formula 1, termasuk Ross Brawn, untuk mencari cara meningkatkan daya tarik balapan. Salah satu gagasan besar adalah mengembalikan refueling,” kenang Bayer. “Namun setelah meneliti data dan rekaman historis, kami menyimpulkan bahwa dampaknya justru kontraproduktif. Hanya ada beberapa momen dramatis yang tampak spektakuler, tapi secara keseluruhan risikonya lebih besar.”

ADVERTISEMENT

Debat ini masih jauh dari keputusan final, tetapi sikap kritis dari para prinsipal menunjukkan bahwa wacana yang digulirkan Sulayem masih menghadapi jalan terjal. Dengan regulasi mesin baru yang dijadwalkan berlaku pada 2026, FIA dan Formula 1 dituntut mencari titik tengah antara ambisi menghadirkan spektakel dan menjaga kompleksitas strategi yang justru menjadi daya tarik utama olahraga ini. Para penggemar pun menunggu kejelasan arah regulasi, mengingat keputusan ini akan memengaruhi wajah Formula 1 dalam satu dekade ke depan.

Discussion (0)

Join the Discussion!

Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.

Fast, secure, and hassle-free

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

RECOMMENDED FOR YOU