Ketika lampu padam di Monza, Charles Leclerc dan Lewis Hamilton terlibat duel sengit yang berujung insiden. Namun, yang lebih membingungkan adalah mengapa dua pembalap Ferrari itu sampai saling serang, padahal mereka tidak sedang berebut gelar juara dunia.
Sejarah F1 mencatat perseteruan antar rekan setim selalu punya tujuan jelas: memperebutkan gelar. Senna-Prost, Mansell-Piquet, Webber-Vettel, hingga Rosberg-Hamilton—semua memanas ketika mobil mereka mampu juara. Contoh terdekat, Hamilton dan Rosberg di Mercedes 2014, langsung berubah drastis setelah mobil dominan lahir.
Namun, kasus Leclerc-Hamilton berbeda. Ferrari tahun ini tidak kompetitif untuk gelar, dan statistik mengonfirmasi hal itu. Keduanya juga sudah punya kontrak jangka panjang, jadi bukan soal masa depan. Lalu, apa yang memicu ketegangan?

Mungkin ada faktor internal yang tidak terlihat publik. Bisa jadi persaingan gengsi antar pembalap bintang, atau perbedaan gaya balap yang memicu gesekan di trek. Yang jelas, insiden di Tikungan 1 itu meninggalkan banyak pertanyaan.
Hamilton, dengan pengalamannya, seharusnya lebih bijak. Leclerc, yang sedang membangun reputasi, mungkin merasa perlu membuktikan diri. Sayangnya, tanpa mobil yang bisa menang, konflik seperti ini hanya merugikan tim.
Ferrari perlu segera meredam ketegangan ini. Jika tidak, musim yang sudah sulit bisa menjadi lebih buruk. Fans pun bertanya-tanya, akankah perseteruan ini berlanjut di seri berikutnya?



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!