SPONSORED

Kontrak Baru Verstappen Lindungi Domenicali dari Kritik F1

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Kontrak Baru Verstappen Lindungi Domenicali dari Kritik F1
TO NEWS OVERVIEW
Verstappen with Domenicali in parc ferme © XPB Images

Max Verstappen telah menandatangani perpanjangan kontrak dengan Red Bull, sebuah keputusan yang tidak hanya mengamankan masa depannya di Formula 1 tetapi juga secara tidak langsung melindungi posisi presiden dan CEO F1, Stefano Domenicali. Di tengah kritik pedas Verstappen terhadap regulasi baru, kelanjutan kariernya di F1 menjadi tameng bagi Domenicali dari pertanyaan-pertanyaan tidak nyaman mengenai arah olahraga ini.

Sebagai pembalap terbesar kedua setelah Lewis Hamilton, pengaruh Verstappen sangat besar. Debutnya di Nurburgring 24 Hours awal tahun ini bahkan membuat ajang tersebut ludes terjual untuk pertama kalinya. Namun, sepanjang paruh pertama musim, Verstappen justru menjadi kritikus paling vokal terhadap regulasi anyar, menyoroti kelemahan mobil dan pola balap yang naik-turun. Ia bahkan mengancam akan hengkang jika tuntutannya tidak dipenuhi.

Keputusan Verstappen untuk bertahan di Red Bull, setelah pintu dari Mercedes dan McLaren tertutup untuk 2027, memberikan kelegaan besar bagi timnya. Namun, yang paling bernapas lega adalah Domenicali. Jika Verstappen benar-benar pergi, itu akan menjadi vonis buruk bagi F1 dan bisa memperpendek masa jabatan sang bos asal Italia tersebut.

Verstappen's New Deal Shields F1 Boss from Uncomfortable Questions
Read AlsoVerstappen's New Deal Shields F1 Boss from Uncomfortable Questions

Regulasi 2025 memperkenalkan pembagian tenaga 50:50 antara mesin pembakaran internal (ICE) dan elemen listrik. Namun, dengan keterbatasan penyimpanan energi, Verstappen sejak awal mengkhawatirkan mobil akan kehabisan daya di akhir trek lurus. Sirkuit seperti Melbourne, Shanghai, dan Silverstone memperlihatkan masalah ini dengan jelas, dan di Monza nanti, fenomena 'super-clipping' diprediksi akan kembali menjadi topik hangat.

ADVERTISEMENT

Dampaknya, kecepatan di akhir trek lurus bisa lebih lambat dibandingkan mobil Formula 2, karena mobil F1 dengan tenaga ICE murni hanya menghasilkan sekitar 450-500 bhp. Sistem ini juga membuat gaya balap menjadi 'yo-yo', di mana pembalap menyalip dengan bantuan daya listrik, lalu langsung kehilangan posisi di trek lurus berikutnya saat lawan melepaskan energi mereka sendiri.

Kritik Verstappen setelah Grand Prix China sangat tajam: "Ini mengerikan. Jika ada yang suka ini, berarti dia tidak tahu apa itu balapan. Ini tidak menyenangkan sama sekali. Ini seperti bermain Mario Kart. Ini bukan balapan. Kamu melesat melewati, lalu kehabisan baterai di trek lurus berikutnya, mereka melesat melewati kamu lagi. Bagi saya, ini hanya lelucon."

Dengan bertahannya Verstappen, Domenicali dapat menghindari pertanyaan sulit tentang kredibilitas F1. Namun, tekanan tetap ada: apakah regulasi ini akan diperbaiki sebelum kritik semakin memuncak? Untuk saat ini, F1 tampaknya selamat dari badai, tetapi ancaman Verstappen untuk pergi masih menggantung di udara.

ADVERTISEMENT

Discussion (0)

Join the Discussion!

Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.

Fast, secure, and hassle-free

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

RECOMMENDED FOR YOU