Lewis Hamilton meluapkan kekesalannya kepada timnya sendiri, Ferrari, dalam Grand Prix Belanda di Zandvoort. Pembalap berusia 41 tahun itu menuduh timnya membuang-buang waktu karena tidak segera menukar posisinya dengan rekan setim, Charles Leclerc, yang justru memperlambat lajunya di tengah balapan.
Start yang kurang mulus membuat Lewis Hamilton tertahan di belakang Leclerc. Namun, dengan ban yang jauh lebih segar, ia dengan cepat mendekati rekan setimnya. Sayangnya, Ferrari tampak ragu-ragu untuk mengeluarkan perintah tim, dan Hamilton harus kehilangan waktu berharga di belakang Leclerc sebelum akhirnya Leclerc melakukan pit stop.
Kekesalan Hamilton semakin memuncak setelah ia berhasil mengejar Leclerc pada lap 42. Melalui radio tim, ia berteriak, "Aku lebih cepat dari Charles. Bannya lebih baik." Insinyur balapnya, Carlo Santi, hanya menjawab singkat, "Dipahami," tetapi tanpa tindakan lanjutan. Hamilton pun kembali menyentak, "Kita cuma buang-buang waktu!" dan pada lap 44, ia menambahkan dengan nada sinis, "Cara yang hebat untuk membuang waktu, kawan. Kerja bagus."

Keluhan Hamilton tidak berhenti di situ. Setelah kehilangan posisi dari Andrea Kimi Antonelli dan Lando Norris yang menggunakan ban lebih baru, ia kembali mempertanyakan strategi tim. "Kalian pakai aku sebagai kelinci percobaan atau apa? Aku di sini sampai kapan?" tanyanya frustrasi. Ferrari akhirnya bereaksi dengan memanggilnya masuk pit pada lap berikutnya, memanfaatkan virtual safety car untuk melakukan double stack dan meredakan ketegangan di antara kedua pembalapnya.
Setelah pit stop, Hamilton tidak mampu menyalip George Russell yang mengendarai Mercedes. Ia harus puas finis di posisi keempat, tepat di depan Leclerc. Santi mencoba menghibur, "Terima kasih Lewis. Sedikit kurang beruntung dengan Russell..." Namun, Hamilton langsung membantah, "Kami tidak kurang beruntung! Kami kehilangan waktu di awal dan itu membuat kami kehilangan P3."
Hasil ini membuat Antonelli semakin kokoh di puncak klasemen dengan keunggulan 59 poin atas Russell. Sementara itu, Russell dan Hamilton kini sama-sama mengoleksi poin yang identik, tetapi Russell unggul berkat jumlah kemenangan yang lebih banyak. Kekecewaan Hamilton jelas menjadi sorotan, mengingat ia bergabung dengan Ferrari untuk meraih gelar juara dunia, tetapi justru kerap kehilangan poin akibat strategi yang dipertanyakan.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!