Mantan pembalap Formula 1 Daniel Ricciardo akhirnya membuka suara mengenai pergulatan batin yang ia rasakan setelah resmi didepak dari grid kelas premier. Dalam siniar F1 Beyond The Grid, pemenang delapan Grand Prix ini merefleksikan kembali bulan-bulan berat yang harus ia lalui pasca-keputusan pahit dari tim Racing Bulls yang melepas jasanya menyusul seri Grand Prix Singapura 2024.
Performa yang tidak sesuai standar serta kegagalan menyelesaikan satu musim penuh meninggalkan luka emosional yang mendalam bagi sang pembalap asal Australia tersebut. Rasa malu karena merasa gagal memenuhi ekspektasi masa lalu menjadi beban psikologis yang sangat berat untuk dikendalikan di balik senyuman yang ia tunjukkan kepada publik luas.
“Tidak tampil pada level yang aku butuhkan saat itu atau tidak mampu menyelesaikan musim atau apa pun, itu adalah rasa penghinaan, seperti aku gagal dan aku tidak melakukan apa yang dulu bisa aku lakukan,” ujar Ricciardo dalam siniar tersebut. Ia mengakui bahwa interaksinya dengan publik yang tampak ceria di luar hanyalah sebuah kedok untuk menutupi rasa sakit dan kesedihan mendalam atas hilangnya impian masa kecilnya.

Karier panjang di ajang balap jet darat yang dimulai bersama HRT pada 2011 dan menghasilkan 32 podium dari 257 start harus berakhir dengan cara yang kurang ideal. Setelah sebelumnya sempat tersingkir dari McLaren pada akhir musim 2022 dan digantikan oleh Oscar Piastri, kesempatan kedua bersama tim junior Red Bull tidak mampu menyelamatkan kariernya dari pemecatan di tengah musim akibat inkonsistensi performa serta insiden cedera tangan.
Tekanan masif di level tertinggi motorsport ternyata sempat memicu keinginan untuk mundur secara sukarela jauh sebelum insiden pemecatan tersebut terjadi. Momen di Silverstone pada 2015 serta akhir pekan GP Monako 2022 menjadi titik-titik di mana ia secara terang-terangan mengaku kepada tim bahwa dirinya sudah jenuh dan ingin mengakhiri karier balapnya.
“Aku bisa memberitahumu sekarang di Monako 2022 setelah balapan, aku duduk di apartemenku berbicara dengan tim dan aku bilang ‘teman-teman aku tidak ingin melakukan ini lagi. Aku selesai’,” kenangnya mengenang masa-masa penuh tekanan tersebut.
Meski demikian, dukungan konstan dari orang-orang terdekat yang selalu meyakinkannya untuk terus berjuang membuat ia bertahan lebih lama dari yang ia bayangkan sebelumnya. Kini, menikmati kehidupan normal bersama keluarga di Perth, fokus pada merek fesyen Enchante, serta peran sebagai duta global Ford Racing, memberikannya ruang baru untuk mengevaluasi ulang perjalanan hidupnya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!