Keputusan Red Bull menunjuk Liam Lawson sebagai pengganti Isack Hadjar untuk Grand Prix Belanda memunculkan pertanyaan besar: mengapa bukan Arvid Lindblad? Alan Permane, kepala tim Racing Bulls, akhirnya buka suara.
Hadjar mengalami cedera selama jeda musim panas, memaksa Red Bull mencari pengganti cepat. Lawson, yang sempat dipecat dari kursi Red Bull tahun lalu setelah dua seri yang mengecewakan, justru dipanggil kembali. Ia menjadi pembalap pertama dalam sejarah Red Bull yang mendapat kesempatan kedua.
Menjawab apakah Arvid Lindblad sempat menjadi opsi, Permane mengaku kepada Sky F1 bahwa itu memang dipertimbangkan. Namun, pilihan pragmatis jatuh pada Lawson.

“Liam adalah pembalap Red Bull. Ia hanya unggul tipis dari Arvid tahun ini. Memilih yang lebih berpengalaman adalah hal yang tepat bagi mereka. Ini normal bagi tim untuk mengambil salah satu pembalapnya, bahkan jika ia kebetulan membalap untuk tim lain,” jelas Permane. Ia mencontohkan saat Lewis Hamilton terkena COVID di Bahrain, George Russell ditarik dari Williams untuk menggantikannya.
Dengan naiknya Lawson ke Red Bull, Yuki Tsunoda dipromosikan ke Racing Bulls. Permane mengakui bahwa ia tidak punya pengaruh besar dalam keputusan ini. “Apa yang Red Bull lakukan, kami diskusikan—saya tak punya banyak pengaruh, saya yakin Liam juga tidak. Ini jelas keputusan yang tepat, dan Arvid baik-baik saja. Ia sepenuhnya memahami,” ungkapnya.
Keputusan ini menegaskan prioritas Red Bull pada pengalaman di tengah tekanan gelar. Lawson kini menghadapi tugas berat: membalap di Zandvoort dengan mobil yang belum ia kenal. Sementara Lindblad, yang masih muda, mendapat pesan jelas bahwa kesabaran adalah kunci.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!