Fabio Di Giannantonio, pembalap VR46 Ducati, mengaku justru menikmati statusnya sebagai "underwolf" dalam persaingan gelar MotoGP 2026. Ia berada di posisi keempat klasemen, tertinggal dari pemimpin Jorge Martin setelah akhir pekan yang sulit di Aragon.
Pembalap Italia ini sempat menjadi andalan Ducati di sebagian besar musim 2026. Ia bahkan meraih kemenangan di Grand Prix Catalunya meski menderita cedera tangan akibat insiden menegangkan dengan Alex Marquez.
Dalam wawancara eksklusif dengan Crash.net di Silverstone, Fabio Di Giannantonio menegaskan bahwa ia memiliki talenta besar untuk menjadi juara dunia. Namun, ia juga sadar bahwa gelar juara adalah pembeda antara pembalap top dan sekadar pembalap cepat.

Filosofi Underwolf: Bukan Sekadar Underdog
Di Giannantonio menjelaskan perbedaan antara "underwolf" dan "underdog". Ia merasa nyaman dengan peran yang membuat banyak orang bersimpati ketika ia tampil cepat dan mengalahkan rival-rival yang lebih difavoritkan.
"Saya hidup baik sebagai underwolf, bukan underdog," ujarnya. "Terkadang posisi ini membuat orang senang ketika underdog tampil cepat dan mengalahkan orang lain."
Meski mendapat dukungan publik, ia menegaskan bahwa itu tidak mengubah fokusnya. "Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik," tambahnya.
Perjalanan Karier: Dari Hampir Tergusur ke Kontrak Pabrikan
Konsistensi Di Giannantonio membawanya mendapatkan kontrak pabrikan KTM untuk musim depan. Ini merupakan pencapaian luar biasa mengingat tiga tahun lalu ia nyaris kehilangan tempat di grid.
Debutnya bersama Gresini pada 2022 memang sulit. Performa barunya baru muncul di akhir musim 2023 dengan kemenangan perdana di Qatar, tetapi saat itu kursinya sudah diambil alih oleh Marc Marquez.
VR46 kemudian memberinya peluang setelah Luca Marini pindah ke Honda. Hasil impresifnya pada 2024 membuat tim tersebut mendapatkan dukungan pabrikan resmi dari Ducati.
Di Giannantonio menilai paddock perlu lebih sabar dalam mengembangkan pembalap muda. Ia menyoroti ketatnya persaingan MotoGP saat ini, di mana level semua pembalap sangat tinggi dan perbedaan waktu sangat tipis.
"Jika Anda tertinggal 30 detik dari pemimpin, Anda bisa jadi yang terakhir. Level MotoGP saat ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah," pungkasnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!