David Coulthard melihat ada pola yang tak asing dalam cara Kimi Raikkonen membesarkan putranya, Robin. Menurut mantan pembalap Formula 1 itu, pendekatan yang diambil Raikkonen senior sangat mirip dengan apa yang dilakukan Jos Verstappen kepada Max. Kesamaan ini mencuat setelah Red Bull resmi mengumumkan bahwa Robin, yang baru berusia 11 tahun, direkrut ke dalam akademi pembalap mereka mulai 2027.
Kabar tersebut tentu menggetarkan paddock. Red Bull Junior Team memang dikenal sebagai kawah candradimuka yang telah melahirkan banyak nama besar. Max Verstappen, Sebastian Vettel, Carlos Sainz, Pierre Gasly, hingga Daniel Ricciardo adalah deretan alumni yang kini menghiasi grid F1. Kini, nama Robin Raikkonen masuk dalam radar, dan ekspektasi pun langsung melambung.
Pendekatan ala Jos Verstappen
Berbicara di podcast Up To Speed, Coulthard mengungkapkan bahwa Kimi Raikkonen tidak sekadar menonton dari pinggir lintasan. Juara dunia 2007 itu benar-benar terjun langsung mengawal karier putranya. Keluarga Raikkonen bahkan pindah dari Swiss ke Italia demi bisa tinggal dekat sirkuit karting. Robin pun dikabarkan berlatih hampir setiap hari.

"Dia melakukan apa yang Jos Verstappen lakukan dengan Max," ujar Coulthard. "Mereka menciptakan skenario terbaik untuk pembalap muda paling berpengalaman. Tapi ada satu hal: beberapa karting terbaik tidak pernah sukses di mobil karena dinamika kendaraannya berbeda. Karting itu sasisnya kaku, tanpa suspensi, dan menggunakan poros belakang solid. Saat beralih ke mobil, ada suspensi, diferensial, dan downforce."
Pernyataan ini menyoroti betapa kompleksnya transisi dari karting ke balap mobil. Coulthard tidak meragukan bakat Robin, tetapi ia mengingatkan bahwa banyak talenta karting yang mentok di jenjang berikutnya. Namun, dengan bimbingan langsung dari Kimi dan dukungan Red Bull, Robin berada di jalur yang tepat untuk meminimalkan risiko tersebut.
Kepribadian dan tantangan masa depan
Ditanya soal karakter Robin, Coulthard menyebut anak itu tampak menyenangkan dan tidak menunjukkan arogansi yang sering terlihat pada sebagian pembalap muda. "Dia anak yang baik. Orang tuanya membumi, jadi dia akan tetap membumi," katanya. Coulthard juga menyoroti masa pubertas sebagai fase krusial yang bisa mengubah segalanya. "Banyak anak perempuan di karting bisa bersaing dengan anak laki-laki, tapi setelah remaja, segalanya berubah. Di situlah kita tahu apakah mereka masih punya fokus, tekad, dan bakat."
Ia lantas menyinggung betapa kerasnya dunia balap. "Lewis Hamilton adalah pembalap dengan kemenangan grand prix terbanyak, tapi dia sudah menjalani 400-an balapan. Dia kalah di 300-an balapan. Hanya menang 100-an. Jadi, rasa sakit itu pasti ada." Coulthard ingin menegaskan bahwa ketahanan mental adalah kunci, dan itu yang akan diuji pada diri Robin seiring bertambahnya usia.
Bagi Red Bull, merekrut Robin bukan sekadar investasi jangka panjang, melainkan juga strategi branding. Nama Raikkonen masih sangat magnetis di dunia motorsport, dan menyatukannya dengan Verstappen bisa menjadi cerita yang menarik bagi fans. Namun, tekanan pasti akan datang. Publik akan membandingkan Robin dengan Max, dan itu tidak selalu adil untuk anak berusia 11 tahun.
Kimi Raikkonen sendiri dikenal sebagai pribadi yang tenang dan tidak banyak bicara. Pendekatan hands-on yang ia lakukan mungkin mengejutkan sebagian orang, tetapi ini menunjukkan keseriusannya. Jika Robin terus berkembang, kita mungkin akan melihatnya di lintasan F1 suatu hari nanti. Tapi untuk sekarang, biarkan ia menikmati masa kecilnya di atas karting, sambil belajar dari salah satu pembalap terbaik yang pernah ada.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!