Akhir pekan balap yang dijalaninya di Pertamina Grand Prix of Indonesia berakhir dengan cara yang sama sekali tidak diharapkan oleh Fermin Aldeguer. Pembalap muda asal Spanyol tersebut mengalami tiga kali kecelakaan sepanjang akhir pekan di Sirkuit Mandalika, Lombok. Setelah insiden-insiden kecil pada sesi latihan bebas pertama dan sesi latihan resmi, petaka puncak terjadi pada balapan utama hari Minggu sore ketika ia kembali tergelincir bersama motor Ducati miliknya di atas aspal.
Meskipun insiden tersebut tergolong ringan, rasa frustrasi yang melanda pembalap berusia 21 tahun itu justru berujung pada cedera serius. Dalam amarahnya yang memuncak, ia memukulkan tangan kanannya langsung ke permukaan aspal, yang kemudian terungkap sebagai penyebab utama patah tulang pada pangkal tulang metacarpal pertamanya. Operasi darurat langsung dijalankan di Barcelona untuk merapikan kembali struktur tulang tangan kanannya yang mengalami retak.
Kondisi fisik sang pembalap kini memunculkan tanda tanya besar mengenai kesiapannya menghadapi seri berikutnya di Sirkuit Phillip Island, Australia. Di tengah masa pemulihannya, ia terlihat menyambangi paddock ajang WorldSBK di Jerez dengan tangan kanan yang dibalut gips tebal serta menggunakan penyangga lengan untuk menghindari gerakan berlebih. Posisinya sebagai pembalap utama kini dipertanyakan, sementara Iker Lecuona disiapkan sebagai opsi pengganti darurat sebagaimana yang pernah ia lakukan sebelumnya pada musim ini.

Dalam kunjungannya ke Jerez, Aldeguer menyempatkan diri menyapa para rekan lama sekaligus menemui calon rekan setimnya di masa depan, Nicolo Bulega. Keduanya dipastikan akan memperkuat skuad Pertamina Enduro VR46 Racing Team pada musim 2027 dan 2028 mendatang. Pertemuan singkat di garasi tersebut memperlihatkan kehangatan dan rasa saling menghormati di antara kedua pembalap berbakat dari Italia dan Spanyol ini.
Bulega memberikan pembelaan atas reaksi emosional yang ditunjukkan oleh calon rekan setimnya itu usai insiden di Mandalika. Menurut pembalap andalan pabrikan Borgo Panigale tersebut, gelombang adrenalin tinggi yang bercampur dengan rasa bersalah akibat kegagalan mendulang poin sering kali membuat siapa pun sulit mengontrol diri di dalam garasi. Atmosfer kompetisi yang kejam membuat emosi pebalap mudah meledak ketika kerja keras puluhan kru mendadak musnah dalam sekejap akibat kesalahan kecil di lintasan.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!