Graeme Lowdon resmi hengkang dari kursi bos tim Cadillac F1. Marcin Budkowski, pria asal Polandia-Prancis, ditunjuk sebagai penggantinya mulai Grand Prix Belanda akhir pekan depan. Keputusan ini diumumkan di tengah jeda musim panas, dan disebut sebagai bagian dari rencana percepatan pengembangan tim pada paruh kedua musim 2026.
Cadillac menyebut perubahan ini sebagai "transisi kepemimpinan yang direncanakan". Namun, CEO Dan Towriss kemudian membuka fakta mengejutkan: Lowdon tidak menyetujui perubahan tersebut dan baru diberi tahu pada Rabu pagi. "Ini bukan keputusan bersama," ujar Towriss dalam sesi media. Ia menambahkan bahwa proses ini sebenarnya sudah berjalan beberapa bulan, dengan mempertimbangkan kemampuan berbagai kandidat sebelum akhirnya jatuh pada Budkowski.
Towriss juga menjelaskan mengapa proses ini terasa mendadak. Menurutnya, menjaga kerahasiaan pembicaraan dengan Budkowski adalah pilihan sadar agar tidak mengganggu operasional tim selama Lowdon masih menjabat. "Tidak ada cara mudah untuk melakukan transisi seperti ini di Formula 1," katanya. "Jika proses ini bocor ke publik, itu akan membuat tim goyah. Jadi keputusan memang harus terasa lebih mendadak dari yang seharusnya."

Lowdon adalah sosok sentral di balik masuknya Cadillac ke F1. Ia membantu mengamankan slot tim sebelum resmi ditunjuk sebagai prinsipal pada Desember 2024. Pria 61 tahun itu sebelumnya juga mendirikan Virgin Racing dan menjabat sebagai CEO selama era Virgin dan Marussia. Towriss menepis anggapan bahwa Lowdon hanya ditempatkan sebagai figur sementara. "Saya tidak setuju kalau dia hanya interim. Ini hampir empat tahun proses perencanaan dan pembangunan," tegasnya.
Kepergian Lowdon terjadi setelah 11 seri balapan pertama Cadillac. Tim asal Amerika itu masih belum mencetak poin dan berada di posisi terakhir klasemen konstruktor. Meski diperkuat duo berpengalaman, Valtteri Bottas dan Sergio Perez, musim pertama mereka memang diprediksi penuh tantangan. Sebelum debut, Lowdon sempat menekankan bahwa kemajuan lebih penting daripada hasil instan. "Saya akan puas jika kami mengeksekusi dengan baik," ujarnya. "Jika semua yang kami kendalikan berjalan baik, saya yakin kami akan berkembang."
Kini, tanggung jawab untuk mendorong perkembangan itu ada di pundak Budkowski. Pria berusia 49 tahun ini kembali ke peran operasional F1 setelah lebih dari empat tahun meninggalkan Alpine. Kariernya di F1 membentang lebih dari dua dekade, dimulai dari Prost, lalu Ferrari dan McLaren. Ia juga pernah bekerja di FIA sebelum bergabung dengan Renault pada 2018 dan menjadi salah satu tokoh senior di Enstone.
Towriss percaya latar belakang teknis dan manajemen Budkowski adalah yang dibutuhkan Cadillac untuk melangkah ke fase berikutnya. "Sejak awal, tujuan kami bukan sekadar ikut balapan, tapi membangun tim generasi baru yang mampu bersaing di depan," katanya. Budkowski sendiri siap memulai tugasnya di Zandvoort. "Fokus saya adalah menyelaraskan orang, alat, dan alur informasi agar keputusan cepat dan performa mobil meningkat setiap kali balapan," ujarnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!