SPONSORED

Horner: Red Bull Kehilangan 'Vibe' Setelah Kepergiannya

Notifikasi
Ujang Suryana
Ujang Suryana
0
Horner: Red Bull Kehilangan 'Vibe' Setelah Kepergiannya
TO NEWS OVERVIEW
© XPBimages

Christian Horner akhirnya angkat bicara soal kepergiannya dari Red Bull. Dalam wawancara dengan The Times, mantan principal tim itu menyatakan bahwa Red Bull tidak lagi memiliki 'vibe' yang sama sejak ia meninggalkan kursi kepemimpinan pada Juli tahun lalu. Horner, yang menghabiskan 20 tahun bersama tim Milton Keynes, mengaku masih tidak sepenuhnya memahami alasan pemecatannya, meski kabar pesangon besar senilai £50-80 juta mencuat ke publik.

“Itu menunjukkan bahwa Anda tidak melakukan kesalahan apa pun,” ujar Horner, merujuk pada besarnya pesangon yang ia terima. “Mereka hanya tidak menginginkan Anda lagi. Jika seseorang bersedia membayar sebanyak itu agar Anda tidak ada di sanag” Ia lalu jeda sejenak sebelum melontarkan penilaian tajam: “Dan saya pikir jika Anda melihat tim itu 12 bulan kemudian, mereka telah kehilangan mojo, kehadiran, dan vibe-nya.”

Horner menduga bahwa dirinya dianggap terlalu mendominasi dan membuat identitas tim memudar. “Saya diberi tahu bahwa ini lebih seperti Christian Horner Racing daripada Red Bull Racing,” ungkapnya. Ia juga menepis anggapan bahwa penurunan performa menjadi penyebab utama. “Saya tidak pernah diberi penjelasan jelas selain bahwa performa sedikit menurun. Padahal di balapan sebelumnya kami meraih pole position dan memimpin Grand Prix Inggris; jika bukan karena cuaca, kami mungkin menang.”

Klasemen F1 2026: Antonelli Pimpin, Mercedes Dominasi
Baca JugaKlasemen F1 2026: Antonelli Pimpin, Mercedes Dominasi

Kepergian Horner memang meninggalkan luka mendalam bagi tim yang ia bangun menjadi kekuatan dominan di era 2010-an. Sejak kepergiannya, Red Bull di bawah komando Max Verstappen masih kompetitif, tetapi tidak lagi semenakutkan dulu. Musim 2025 menjadi saksi bagaimana tim-tim lain seperti McLaren dan Ferrari mampu memberikan tekanan lebih konsisten, terutama di paruh pertama kompetisi.

ADVERTISEMENT

Yang menarik, Horner tak menampik bahwa kontroversi yang melibatkannya dengan seorang karyawan perempuan pada 2024 turut mempengaruhi posisinya. Dua investigasi internal sempat bergulir, meski ia tidak pernah terbukti bersalah. Namun, bayang-bayang skandal itu seolah menjadi pemicu ketegangan di internal tim, yang puncaknya adalah pemecatan mendadak sang principal.

Dalam pernyataannya, Horner juga menyiratkan bahwa Red Bull saat ini kehilangan sosok sentral yang mampu menyatukan visi. “Saya tidak bisa membicarakan detail kecil kepergian saya, tapi yang jelas, tim ini tidak lagi seperti yang dulu,” tegasnya. Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa hubungan antara Horner dan manajemen Red Bull, terutama dengan keluarga Yoovidhya, memang sudah tidak harmonis jauh sebelum perpisahan resmi terjadi.

Bagi para penggemar F1, komentar Horner ini menjadi cermin betapa dinamisnya politik internal tim papan atas. Red Bull yang dulu dikenal dengan budaya kerja keras dan kecerdasan strategi, kini harus beradaptasi dengan era baru tanpa figur yang telah membesarkan namanya. Apakah mereka bisa menemukan kembali 'vibe' yang hilang? Waktu yang akan menjawab, tetapi kata-kata Horner jelas menggambarkan bahwa kepergiannya bukan sekadar pergantian kursi, melainkan pergeseran identitas.

ADVERTISEMENT

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Aman, Cepat & Terenkripsi

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

RECOMMENDED FOR YOU