MotoGP, Sportrik Media – Nicolo Bulega dari Ducati Lenovo Team menerima pujian tinggi dari rekan satu pabrikan Pecco Bagnaia atas debutnya di Grand Prix Portugal 2025, di mana ia dinyatakan "tidak membutuhkan banyak nasihat" untuk beradaptasi dengan kelas utama. Pembalap Italia berusia 25 tahun ini dipanggil Ducati untuk menggantikan Marc Marquez yang cedera, dan langsung menunjukkan kecepatan kompetitif meskipun finis ke-15 di balapan utama setelah crash di sprint race. Pengalaman 99 start di Moto3 dan Moto2, ditambah latar belakang VR46 Academy bersama Bagnaia, menjadi fondasi solid bagi transisi dari World Superbike ke MotoGP.

Debut Bulega di Sirkuit Portimao menyoroti kemampuan adaptasinya terhadap Ducati Desmosedici GP25, meskipun tantangan utama muncul dari perbedaan ban depan Michelin dibandingkan Pirelli di WSBK. Kualifikasi di posisi 18, tertinggal satu detik dari Q2, diikuti kecelakaan sprint akibat kurangnya pemahaman braking, tidak menghalangi pemulihannya di grand prix. Bagnaia, juara dunia dua kali, memuji pendekatan Bulega yang langsung kuat. "Dia tidak membutuhkan terlalu banyak nasihat," ujar Bagnaia. "Dia sangat kuat sejak awal, dan hanya kurang beruntung crash di sprint. Mungkin dia kehilangan sedikit kepercayaan diri. Tapi finis di poin pada balapan pertama adalah hasil bagus, jadi dia bisa sangat senang. Di Valencia, dia bisa melangkah lebih maju lagi." Pujian ini menegaskan potensi Bulega sebagai talenta Ducati, terutama setelah runner-up WSBK dua kali berturut-turut.
Analisis pace Bulega selama grand prix mengungkapkan kesenjangan minimal dengan Bagnaia, hanya sekitar 0,8 detik per lap rata-rata, meskipun Bagnaia crash di lap 11 dari 25. Data telemetry menunjukkan Bulega mampu mempertahankan konsistensi di tengah medan basah, dengan waktu lap yang mendekati rekan setimnya di sektor-sektor kritis seperti tikungan cepat. Berikut perbandingan pace lap awal mereka:
| Lap | PB63 (H/M) | NB11 (H/M) |
|---|---|---|
| 2 | 1m38.915s | 1m40.352s |
| 3 | 1m38.804s | 1m39.762s |
| 4 | 1m38.872s | 1m39.845s |
| 5 | 1m39.119s | 1m39.979s |
| 6 | 1m39.155s | 1m39.88s |
| 7 | 1m39.029s | 1m39.872s |
| 8 | 1m39.35s | 1m39.846s |
| 9 | 1m39.23s | 1m40.066s |
| 10 | 1m39.042s | 1m39.865s |
| Rata-rata | 1m39.057s | 1m39.941s |
| Selisih | - | -0.884s |
Tabel ini mengilustrasikan bagaimana Bulega, meskipun rookie, cepat menyesuaikan setup suspensi untuk mengoptimalkan traksi ban Michelin, yang menuntut braking lebih progresif. Dibandingkan dengan penggantian sementara seperti di masa lalu untuk tim Ducati, performa Bulega lebih menjanjikan daripada ekspektasi awal, terutama di bawah arahan Davide Tardozzi sebagai bos tim. Tardozzi menekankan bahwa dua ronde akhir plus tes Valencia adalah kesempatan emas bagi Bulega untuk mengumpulkan data GP25, yang akan menjadi benchmark krusial saat ia memimpin pengembangan GP27 mulai 2026.
Dalam konteks lebih luas, peran Bulega sebagai jembatan antara WSBK dan MotoGP memperkaya ekosistem Ducati Corse, di mana ia bergabung dengan alumni VR46 seperti Bagnaia untuk memperkuat lini Italia. Meskipun absennya Marquez membuka slot ini, Bulega tidak hanya mengisi kekosongan tetapi juga menambah data berharga untuk evolusi mesin, termasuk peningkatan aerodinamika dan elektronik yang akan diuji di Valencia. Strategi Ducati untuk memaksimalkan wildcard ini selaras dengan visi jangka panjang, di mana Bulega berpotensi naik permanen jika performa berlanjut.
Secara keseluruhan, debut Bulega di Portugal menjadi tonggak positif bagi Ducati menjelang finale Valencia 14-16 November 2025, dengan harapan ia melampaui P15 dan mendekati top-10. Prospek pengembangannya untuk GP27 menjanjikan kontribusi signifikan, mengubah peran deputi menjadi aset strategis. Untuk pembaruan terkini, kunjungi Sportrik.com.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!