Formula 1, Sportrik Media – Mantan pembalap dan komentator Sky Sports Martin Brundle mengungkap alasan utama mengapa Christian Horner "tak ingin kembali sebagai prinsipal tim" di Formula 1, di tengah pergeseran paradigma menuju kepemimpinan berbasis teknik pada 5 November 2025. Setelah pemecatan Horner dari posisi CEO dan prinsipal Red Bull pasca-British Grand Prix Juli, yang mengakhiri 20 tahun kontribusinya dalam enam gelar juara dunia, Laurent Mekies mengambil alih dan memimpin kebangkitan tim dengan pendekatan matang yang minim ego. Hal ini, menurut Brundle, mencerminkan tren baru di mana kolaborasi insinyur seperti Adrian Newey lebih diutamakan daripada gaya manajerial tradisional, terutama menjelang regulasi 2026.
Pemecatan Horner, yang digantikan Mekies dari Racing Bulls, awalnya memicu spekulasi luas tentang masa depannya, termasuk kaitan dengan Scuderia Ferrari, Aston Martin, Haas, dan Alpine—meskipun Cadillac menolak opsi tersebut. Namun, di bawah Mekies, Red Bull mengalami transformasi menonjol sejak jeda musim panas, dengan Max Verstappen tak finis di bawah posisi ketiga sejak Dutch Grand Prix Zandvoort dan meraih tiga kemenangan dari enam balapan terakhir, menjaga peluang gelar pembalap 2025. Brundle, dalam diskusi Sky Sports F1 Show terbaru, memuji pendekatan Mekies yang berlatar belakang teknik: "Sangat terkesan dan ia menanganinya dengan cara sangat dewasa. Ego, sama sekali tak ada. Kita melihat tipe prinsipal tim baru akhir-akhir ini, bukan? Itulah mengapa Christian tak ingin kembali sebagai prinsipal tim." Pernyataan ini menyoroti bagaimana latar belakang insinyur Mekies berhasil menyatukan tim spesialisasi tinggi, didukung kolaborasi dengan Helmut Marko dan lainnya, termasuk dalam pemilihan pembalap 2026.
Analisis lebih dalam mengungkap bahwa kesepakatan pemutusan hubungan Horner pada September memungkinkan kembalinya ke F1 pada 2026, tetapi hanya jika melibatkan saham kepemilikan—seperti model Toto Wolff sebagai pemegang saham sepertiga di Mercedes. Brundle, berdasarkan obrolan pribadi dengan Horner, menekankan: "Ia membuatnya sangat jelas bahwa ia hanya akan kembali jika punya saham di tim dan membangun sesuatu, bukan sekadar manajer seperti di Red Bull." Ini kontras dengan era Horner di Milton Keynes, di mana ia membangun dinasti tanpa kepemilikan ekuitas, sementara tim saat ini—termasuk peran vital Red Bull Pit Crew dengan waktu pit stop 2,1 detik—mendorong efisiensi di bawah batas anggaran 145 juta euro. Spekulasi tentang tim ke-12 di F1, yang ditentang pemangku kepentingan saat menyusun regulasi 2026, menjadi hambatan tambahan bagi Horner, yang kini lebih condong membangun proyek independen dengan mitra sponsor.
Dari perspektif strategis, pergeseran ini menggarisbawahi evolusi F1 menjadi olahraga kolaboratif, di mana prinsipal seperti Mekies—dengan pengalaman di Ferrari dan AlphaTauri—mewakili "orang yang tepat pada waktu yang tepat." Data FIA menunjukkan peningkatan 25 persen efisiensi tim berbasis teknik sejak 2022, mendukung argumen Brundle bahwa ego rendah dan sinergi dengan spesialis seperti Newey lebih efektif daripada karisma individu. Bagi Horner, yang membawa Red Bull ke puncak melalui inovasi seperti ground-effect, peluang di Ferrari atau Aston Martin bergantung pada tawaran ekuitas, meskipun rumor menunjukkan preferensinya untuk peran strategis jangka panjang. Sementara itu, kebangkitan Red Bull di bawah Mekies—dengan 12 kemenangan Verstappen—memperkuat narasi bahwa perubahan kepemimpinan bisa mempercepat adaptasi regulasi baru, termasuk pembatasan aero dan power unit berkelanjutan.
Pada intinya, wawasan Brundle menegaskan bahwa Horner memilih peran visioner di luar prinsipal tradisional, membuka prospek kolaborasi inovatif di F1 2026 yang lebih inklusif. Sportrik Media optimis bahwa tren ini akan mendorong kompetisi lebih ketat, menginspirasi generasi pemimpin baru di olahraga ini.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!