MotoGP, Sportrik Media – Pecco Bagnaia dari Ducati mengungkapkan keterkejutannya atas insiden ban bocor yang memaksanya mundur dari Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang, sebuah kejadian yang disebutnya sebagai hal langka dalam karir MotoGP-nya. Meskipun demikian, pembalap juara dunia ganda ini tetap optimis menghadapi Grand Prix Portugal mendatang, dengan fokus pada kekuatan yang ditunjukkan selama akhir pekan tersebut.
Pada akhir pekan di Sepang, Bagnaia menunjukkan performa impresif yang kontras dengan tantangan sebelumnya. Setelah dua seri sebelumnya yang sulit, yakni di Indonesia dan Australia, di mana ia mengalami kesulitan signifikan termasuk kecelakaan di Phillip Island, Bagnaia berhasil bangkit. Oleh karena itu, hari Sabtu menjadi sorotan utama: ia lolos dari Q1, meraih pole position, dan mendominasi balapan sprint dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan para pesaing di belakang. Hal ini tidak hanya membangun kepercayaan diri tim, tetapi juga menandakan pemahaman yang lebih baik atas masalah teknis yang sempat menghantui Ducati. Selain itu, keberhasilan tersebut memperkuat posisinya dalam perburuan peringkat ketiga klasemen pembalap, di mana ia hanya tertinggal lima poin dari Marco Bezzecchi dari Aprilia.

Namun, hari Minggu membawa kekecewaan mendadak. Insiden di kelas Moto3 yang tragis telah menciptakan suasana tegang, dan Bagnaia pun harus menghadapi tantangan serupa saat balapan utama berlangsung. Meskipun awalnya ia mampu mengelola jarak dengan Alex Marquez secara efektif, rencananya untuk menekan di lima lap terakhir terhenti oleh kejadian tak terduga: bocornya ban belakang yang dikonfirmasi oleh Michelin sebagai penyebab pensiunnya.
Dalam wawancara dengan Sky Italy, Bagnaia menyatakan, “Puncturing is something I've never heard of, and that happened too.” Pernyataan ini menekankan kelangkaan insiden tersebut, mengingat ban MotoGP jarang mengalami masalah semacam ini di tengah persaingan ketat. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kejadian ini bukan hanya kehilangan poin potensial untuk podium, tetapi juga menguji ketahanan mental Bagnaia di tengah tekanan klasemen, di mana Marc Marquez juga menjadi ancaman kuat.
Dari perspektif strategis, insiden Sepang ini menjadi pelajaran berharga bagi Ducati. Meskipun Bagnaia mengakui bahwa balapan berjalan baik hingga lap-lap akhir, di mana ia berpotensi naik peringkat meski sulit, kejadian ini menyoroti kerentanan elemen teknis di sirkuit yang menuntut presisi tinggi.
Oleh karena itu, tim kini difokuskan pada dukungan penuh untuk Bagnaia dalam perebutan posisi ketiga, dengan harapan mengoptimalkan data dari akhir pekan positif tersebut. Bagnaia sendiri menambahkan, “We were coming off two pretty difficult weekends, especially Indonesia. And in Australia, there were still some big difficulties... However, it remains the positive of the weekend, so we arrive here with the same strength.” Pendekatan ini mencerminkan kedewasaan sebagai juara, di mana ia menghindari prediksi berlebihan untuk Portimao dan lebih menekankan konsistensi.
Secara keseluruhan, insiden ban bocor di Sepang tidak hanya menjadi pukulan bagi Bagnaia, tetapi juga pengingat akan ketidakpastian dalam MotoGP yang membuat setiap seri menjadi ujian adaptasi. Dengan posisi klasemen yang masih terbuka lebar, prospek Grand Prix Portugal pada November 2025 tampak menjanjikan bagi Ducati, di mana Bagnaia memiliki sejarah kuat termasuk kemenangan pada 2021 dan 2023. Hal ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat perburuan gelar, asalkan tim mampu mengintegrasikan pelajaran dari Sepang ke dalam persiapan mendatang. Untuk pembaruan terkini, kunjungi Sportrik.com.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!