Formula 1, Sportrik Media – Kesalahan strategi lap ketujuh di Grand Prix Qatar 2025 menjadi salah satu momen paling kontroversial musim ini. Oscar Piastri yang mendominasi sepanjang akhir pekan justru kehilangan kemenangan nyaris pasti karena keputusan McLaren untuk tidak memanggilnya pit saat safety car keluar. Berikut kronologi lengkap dan penjelasan resmi dari dalam tim.
Semua bermula pada lap ketujuh ketika Nico Hulkenberg dan Pierre Gasly bersenggolan, memicu safety car. Pada saat itu, Piastri memimpin dengan nyaman 2,6 detik di depan Max Verstappen, sementara Lando Norris berada di posisi ketiga. Karena regulasi Pirelli 2025 membatasi stint maksimal 25 lap, safety car menjadi kesempatan emas untuk menyelesaikan satu pit stop tanpa kehilangan banyak waktu.
Hampir seluruh grid langsung masuk pit, kecuali Piastri, Norris, dan Esteban Ocon (yang masuk lap berikutnya). Keputusan McLaren ini didasarkan pada dua pertimbangan utama yang diungkap kepala tim Andrea Stella pasca-balapan:
- Tim percaya masih ada fleksibilitas untuk pit kedua di sekitar lap 32 tanpa terikat jadwal ketat.
- Kekhawatiran double-stack di pit lane yang bisa merugikan Norris lebih parah jika Piastri dipanggil lebih dulu.
Namun, prediksi itu salah total. Degradasi ban di Lusail ternyata sangat rendah, sehingga semua pembalap yang pit di bawah safety car bisa bertahan hingga akhir dengan hanya satu stop lagi. Sementara Piastri dan Norris terpaksa melakukan kedua pit stop di kondisi balapan normal, kehilangan total sekitar 25-30 detik terhadap Verstappen.
Dari kokpit, Piastri sempat bertanya via radio: “What are we doing?” karena mendekati pit entry tanpa instruksi. Saat akhirnya diberi tahu bahwa hampir semua pembalap sudah pit, ia langsung menyadari konsekuensinya. “Saat itu saya tahu kita dalam masalah besar,” katanya kemudian.
CEO McLaren Zak Brown secara terbuka mengakui kesalahan: “Kami membuat blunder besar. Kami menghadiahkan kemenangan itu kepada Oscar. Ini bukan soal papaya rules atau memihak salah satu pembalap, ini murni salah membaca situasi.”
Andrea Stella menambahkan: “Kami tidak mengira semua tim akan pit secara massal. Kami pikir beberapa akan tetap bertahan seperti kami. Itu kesalahan perhitungan, bukan komunikasi atau kebijakan internal.”
Fakta penting lain yang terungkap:
- Strategi split (hanya memanggil Piastri) sebenarnya dibahas, tapi ditolak karena risiko double-stack dan keinginan mempertahankan posisi Norris.
- Data telemetri menunjukkan Piastri memiliki pace 0,3-0,5 detik lebih cepat daripada Verstappen sepanjang balapan jika berada di udara bersih.
- Tanpa blunder ini, Piastri diprediksi menang dengan margin 10-15 detik.
Akibatnya, klasemen berubah drastis: Norris tetap memimpin (408 poin), Verstappen naik ke P2 (396 poin), dan Piastri turun ke P3 (392 poin). Kini di Abu Dhabi, Piastri harus menang dan berharap Norris finis P7 atau lebih buruk agar bisa merebut gelar—skenario yang sangat sulit.
Meski kecewa berat, Piastri menunjukkan sikap dewasa: “Ini bukan bencana. Kami membuat keputusan salah, itu jelas. Tapi dunia tidak runtuh. Secara pribadi ini lebih menyakitkan daripada diskualifikasi Vegas, karena saya benar-benar merasa kehilangan kemenangan hari ini.”
McLaren kini fokus evaluasi internal total agar kesalahan serupa tidak terulang di balapan penentu gelar. Dengan kecepatan MCL39 yang masih terbaik di grid, Piastri dan Norris tetap punya peluang besar—asal tidak ada lagi “own goal” di Yas Marina.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!