Kemenangan Kimi Antonelli di Grand Prix Italia bukan sekadar angka. Start dari posisi 19, ia melesat ke depan dan finis terdepan, memperlebar keunggulannya di klasemen menjadi 66 poin. Dengan sisa sekitar 10 seri, banyak yang mulai bertanya: apakah perburuan gelar sudah berakhir?
Antonelli tampil luar biasa konsisten musim ini. Dari 13 seri yang sudah berjalan, ia naik podium 11 kali. Pembalap Mercedes itu juga menunjukkan kemampuan bertarung dari belakang, sesuatu yang jarang terlihat dari pembalap muda sekalibernya. Jika ia terus tampil seperti ini, sulit membayangkan gelar juara dunia pertamanya lepas.
Namun, matematika masih berbicara. 66 poin bukanlah jurang yang mustahil untuk dikejar, terutama jika Antonelli mengalami dua kali gagal finis. Tekanan akan langsung terasa. Tapi sejauh ini, ia tampak tenang dan tidak tergoyahkan, justru semakin tajam di saat-saat krusial.

Di sisi lain, George Russell, rekan setim sekaligus rival terdekatnya, harus menghadapi kenyataan pahit. Kekalahan di Monza membuatnya tertinggal jauh, dan peluang untuk membalikkan keadaan semakin tipis. Russell butuh keberuntungan besar, seperti yang pernah terjadi pada kasus Oscar Piastri tahun lalu, yang mampu mengungguli rekan setimnya meski sempat tertinggal.
Balapan berikutnya di Baku bisa menjadi titik balik. Russell dijadwalkan mendapat penalti turun grid karena pergantian mesin, memberi peluang emas bagi Antonelli untuk semakin menjauh. Jika ia mampu memanfaatkan momen ini, gelar juara dunia akan semakin dekat.
Para pengamat sepakat bahwa untuk kehilangan gelar dari posisi ini, Antonelli harus mengalami kemunduran yang luar biasa. Dengan performa dan ketenangannya, itu tampaknya sangat tidak mungkin terjadi. Apakah kita akan menyaksikan sejarah baru tercipta di musim 2026?



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!