Alpine kembali menyuarakan sikap tegasnya terhadap gelombang ujaran kebencian di media sosial yang muncul setelah insiden kecelakaan beruntun yang melibatkan Franco Colapinto pada Grand Prix Azerbaijan akhir pekan lalu. Tim yang bermarkas di Enstone tersebut menegaskan bahwa serangan verbal yang menyasar pembalap, tim, hingga jurnalis tidak dapat ditoleransi dalam olahraga apa pun, terlebih di ajang Formula 1 yang menjunjung tinggi sportivitas.
Kecelakaan itu terjadi saat restart mobil keselamatan di Sirkuit Baku City. Colapinto kehilangan kendali atas mobilnya dan memicu tabrakan beruntun yang membuat Pierre Gasly dan Lando Norris tersingkir dari balapan. Insiden tersebut sontak memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Norris yang sebelum melihat rekaman menyarankan sanksi larangan satu balapan bagi penyebab kecelakaan. Meski tidak menyebut nama, pernyataan itu memicu badai komentar kebencian di media sosial, terutama diarahkan kepada pembalap McLaren tersebut, namun Gasly dan pihak lain juga tidak luput dari serangan.
Dalam pernyataan resmi pada Minggu, Alpine menekankan bahwa kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari balapan di batas limit, namun tidak ada hasil atau konsekuensi apa pun yang membenarkan ujaran kebencian. Tim juga secara khusus menegaskan bahwa kecaman mereka tidak ditujukan kepada basis penggemar tertentu, melainkan sebagai seruan universal bagi seluruh penggemar olahraga ini. "Mengecam pelecehan di media sosial bukanlah ditujukan pada satu basis penggemar atau pendukung tim atau pembalap mana pun, ini universal dan harus disuarakan serta disadari oleh semua penggemar olahraga," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Insiden ini bukan yang pertama. Sebelumnya, penggemar Argentina sempat menjadi sorotan setelah melontarkan komentar kebencian kepada steward FIA dan tim Alpine ketika Colapinto dijatuhi hukuman drive-through karena menyalip di bawah bendera kuning ganda di Zandvoort. Gasly pun menjadi sasaran pelecehan setelah sempat menolak memberi jalan kepada rekan setimnya di Madrid, dengan ancaman yang bahkan menyasar keluarganya. Colapinto sendiri dengan lembut menyebut perilaku tersebut sebagai "tidak enak dilihat" namun menegaskan bahwa itu tidak hanya dilakukan oleh penggemarnya.
Di tengah situasi yang memanas, muncul laporan bahwa bos Alpine, Flavio Briatore, dikabarkan mengancam media Argentina untuk tidak lagi memberikan akses wawancara kepada Colapinto jika ujaran kebencian terus berlanjut. Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya melindungi reputasi tim yang mulai tercoreng akibat perilaku sebagian penggemar. Namun, Alpine dalam pernyataannya memilih untuk tidak memperkeruh suasana dengan menyalahkan basis penggemar tertentu, melainkan mengajak semua pihak untuk bersama-sama menghentikan budaya kebencian di dunia maya.
Tim menegaskan solidaritasnya dengan Formula One, FIA, dan tim-tim lain yang berkomitmen memberantas pelecehan online. "Seperti yang kami katakan sebelumnya, kami sangat mengecam reaksi sebagian penggemar online dan berdiri dalam solidaritas dengan Formula One, FIA, dan tim lain yang ingin menghapusnya. Ini telah menjadi kejadian rutin dalam beberapa balapan terakhir dan tidak dapat dibiarkan," tegas Alpine. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik rivalitas di lintasan, ada nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi.

Dengan langkah ini, Alpine berharap dapat mendorong perubahan budaya di kalangan penggemar, sekaligus melindungi para pembalap dan anggota komunitas F1 dari serangan yang tidak berdasar. Kasus Colapinto hanyalah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar, dan tim menyerukan agar semua pihak, termasuk media dan penggemar, turut serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat di dunia motorsport.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!