Motorsport, Sportrik Media - Max Verstappen disebut mendorong pengembangan mobil GT3 hingga membuat pihak Mercedes-AMG geram menjelang program Nurburgring 2026. Menurut pembalap endurance Renger van der Zande, tuntutan Verstappen mencakup pencarian komponen suspensi alternatif demi memperoleh peningkatan performa sekecil apa pun dari mobilnya.
Van der Zande mengungkapkan informasi tersebut setelah berbicara dengan seseorang yang terlibat dekat dalam program GT Verstappen di Nordschleife. Sumber itu menggambarkan pembalap Belanda tersebut sebagai figur yang bekerja secara ekstrem untuk mengoptimalkan manusia, teknologi, serta setiap komponen mobil. Pendekatan itu memperlihatkan bahwa keterlibatan Verstappen dalam balap GT bukan sekadar aktivitas tambahan di luar Formula 1, melainkan proyek kompetitif yang dijalankan dengan standar teknis tinggi.
“Orang itu berkata, ‘Dia seorang freak. Dia bekerja sampai batas ekstrem untuk benar-benar mendapatkan bagian terakhir dari manusia, teknologi, bahkan peredam kejut,’” kata Van der Zande kepada Ziggo Sport.

Perbedaan pandangan dengan Mercedes-AMG disebut muncul ketika Verstappen membawa satu kotak peredam kejut yang diperoleh melalui seorang kenalannya di Prancis. Ia kemudian meminta agar komponen tersebut digunakan untuk balapan, meski pabrikan telah memiliki pemasok dan konfigurasi suspensi yang menjadi bagian dari paket teknis resminya. Dalam kompetisi GT3, perubahan seperti itu bukan hanya berkaitan dengan preferensi pembalap, tetapi juga menyentuh validasi ketahanan, karakteristik redaman, keseimbangan mekanis, dan integrasi komponen dengan mobil secara keseluruhan.
“Pada satu titik, Max datang dengan satu kotak peredam kejut yang diperolehnya dari seseorang yang dia kenal di Prancis. Kemudian dia mengatakan, ‘Kami akan membalap dengan peredam kejut ini’. Jadi AMG benar-benar geram karena mereka tidak menginginkannya,” jelas Van der Zande.
Peredam kejut memiliki pengaruh langsung terhadap kemampuan mobil mempertahankan kontak ban dengan permukaan lintasan, terutama di Nordschleife yang memiliki perubahan elevasi, permukaan bergelombang, kerb agresif, dan rangkaian tikungan berkecepatan tinggi. Perubahan karakter redaman dapat membantu stabilitas mobil ketika menghadapi kompresi atau transfer beban, tetapi konfigurasi yang terlalu agresif juga dapat mengurangi traksi dan mempercepat degradasi ban. Karena itu, keinginan Verstappen menguji solusi berbeda menunjukkan fokusnya terhadap grip mekanis dan konsistensi mobil dalam stint panjang.
Program tersebut dijalankan oleh Verstappen Racing bersama Winward Racing menggunakan Mercedes-AMG GT3. Verstappen berbagi mobil dengan Lucas Auer, Jules Gounon, dan Daniel Juncadella pada Nurburgring 24 Hours 2026. Mobil bernomor 3 itu memperlihatkan kecepatan kompetitif dan sempat berada di posisi terdepan sebelum mengalami kerusakan driveshaft setelah Verstappen menyerahkan kemudi kepada Juncadella.
Kegagalan menyelesaikan balapan tidak menghapus indikasi bahwa program tersebut memiliki performa untuk bersaing di depan. Verstappen juga sebelumnya mencatatkan waktu 8 menit 11,614 detik pada Top Qualifying 2, hanya terpaut 0,191 detik dari catatan tercepat sesi. Dalam balapan, ia harus mengelola lalu lintas antarkelas, perubahan cuaca, grip yang tidak konsisten, serta kompromi antara menjaga mobil dan mempertahankan kecepatan, faktor yang menjadi pembeda utama antara sprint Formula 1 dan kompetisi endurance.
Van der Zande menilai pola kerja Verstappen memiliki kemiripan dengan ayahnya, Jos Verstappen. Menurutnya, Jos juga bersedia melakukan perjalanan panjang hanya untuk memperoleh komponen karting yang menawarkan keuntungan waktu sangat kecil. Perbandingan tersebut menjelaskan bahwa tuntutan Max terhadap detail teknis bukan muncul setelah keberhasilannya di Formula 1, tetapi berkembang dari lingkungan balap yang selalu memprioritaskan pencarian performa maksimal.
“Anda bisa menelepon Jos pada Jumat ketika akhir pekan karting berlangsung dan mengatakan bahwa ada karburator di Italia selatan yang lebih cepat setengah sepersepuluh detik. Jos kemudian akan masuk ke mobil pada tengah malam untuk mengambil karburator itu. Max juga seperti itu,” ujar Van der Zande.
Ketegangan mengenai pilihan komponen pada akhirnya memperlihatkan perbedaan alami antara tuntutan pembalap dan proses teknis pabrikan. Verstappen mencari respons mobil yang paling sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan Mercedes-AMG harus menjaga reliabilitas, homologasi, hubungan pemasok, dan konsistensi paket balap. Setelah kegagalan mekanis di Nurburgring, fokus program berikutnya akan tertuju pada bagaimana Verstappen Racing dan Mercedes-AMG mengubah kecepatan yang telah terlihat menjadi hasil endurance yang lebih lengkap.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!