Yuki Tsunoda mengakhiri musim 2025 sebagai rekan setim juara dunia, namun harus puas di peringkat 17 klasemen pembalap. Kontras dengan Max Verstappen yang memenangkan delapan grand prix, Tsunoda hanya mengumpulkan 30 poin. Kegagalan ini membuatnya kehilangan kursi di Formula 1 untuk musim berikutnya, dan kini ia membuka suara tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ekspektasi yang Tak Terwujud
Kepercayaan Red Bull kepada Tsunoda datang setelah Liam Lawson gagal memenuhi ekspektasi di dua balapan awal. Lawson tersingkir di Q1 dan tanpa poin, sehingga manajemen memutuskan untuk menukar posisinya dengan Tsunoda. Saat itu, Tsunoda optimistis bisa beradaptasi dengan karakter mobil Red Bull yang dikenal memiliki grip depan kuat. "Saya pribadi menyukai mobil yang berbelok agresif," ujarnya sebelum debut. Namun, kenyataan berbicara lain.
Selama 27 sesi kualifikasi, Tsunoda hanya delapan kali mencapai Q3, sembilan kali tersingkir di Q2, dan sepuluh kali kandas di Q1. Ia hanya sekali mengalahkan Verstappen dalam kualifikasi, dengan selisih rata-rata 0,6 detik. Hasil terbaiknya adalah finis keenam di Baku, sementara Verstappen mengoleksi 385 poin. Ini menjadi salah satu penampilan terburuk rekan setim pembalap juara dalam sejarah modern F1.

Misteri di Balik Kemudi
Dalam podcast Beyond The Grid, Tsunoda mengaku masih belum memahami mobil RB21. "Biasanya saya bisa mengerti karakter mobil, tapi setelah Abu Dhabi pun saya masih tidak tahu mobil apa yang saya kendarai," ungkapnya. Ia merasa kehilangan kepercayaan diri di beberapa balapan, dan hingga kini belum menemukan akar masalahnya. Ketidakmampuan beradaptasi dengan mobil yang sangat sensitif terhadap gaya balap Verstappen menjadi faktor utama.
Red Bull memiliki sejarah panjang dengan mobil yang hanya cocok untuk pembalap tertentu. Setelah kepergian Sebastian Vettel, hanya Verstappen yang mampu tampil konsisten. Pierre Gasly, Alex Albon, dan Sergio Perez semuanya kesulitan. Tsunoda menjadi korban terbaru dari pola ini. Mobil RB21 dirancang dengan preferensi Verstappen yang menginginkan front-end sangat responsif, sementara Tsunoda terbiasa dengan understeer dari Racing Bulls.
Dampak dan Pelajaran
Kegagalan Tsunoda memberikan pelajaran berharga bagi Red Bull. Tim harus mempertimbangkan pendekatan yang lebih adaptif untuk pembalap kedua, atau mencari pembalap yang gaya balapnya cocok dengan karakter mobil. Sementara itu, Tsunoda kini harus mencari peluang lain, mungkin di kategori lain atau kembali ke Racing Bulls. Meski demikian, ia tetap bertekad untuk bangkit dan membuktikan kemampuannya.
Bagi penggemar F1, kisah ini menunjukkan betapa sulitnya menjadi rekan setim pembalap sekaliber Verstappen. Tekanan dan ekspektasi tinggi seringkali menghancurkan karier pembalap muda. Tsunoda bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Namun, keberaniannya mengakui kelemahan dan keinginan untuk belajar patut diacungi jempol.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!