Fabio Di Giannantonio tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Menjelang musim 2027 yang penuh perubahan besar, ia merasa aturan shakedown test MotoGP di Sepang yang hanya memperbolehkan rookie dan test rider tampil justru menciptakan ketidakadilan. Pembalap yang akan pindah ke Red Bull KTM Factory Racing itu menilai persiapan menuju era 850cc menjadi timpang.
Musim 2027 memang akan menjadi titik balik besar dalam sejarah MotoGP. Mesin 1.000cc digantikan unit 850cc, perangkat ride height dilarang, dan Pirelli menggantikan Michelin sebagai pemasok ban resmi. Bagi sebagian pembalap, transisi teknis ini diperberat dengan perpindahan pabrikan. Di Giannantonio termasuk di antaranya, pindah dari VR46 Ducati ke Red Bull KTM Factory Racing. Hal serupa dialami Luca Marini yang hijrah ke Red Bull KTM Tech3, dan Francesco Bagnaia yang menyeberang ke Aprilia.
Sayangnya, perubahan merek tidak diimbangi dengan waktu uji coba yang memadai. Pada tes pasca-balapan di Brno sebelum jeda musim panas, hanya Pedro Acosta dan dua pembalap pabrikan Honda yang bisa mengendarai motor baru meski pindah pabrikan untuk 2027. Akibatnya, mayoritas pembalap yang berganti merek baru akan mencicipi mesin 850cc dengan ban Pirelli pada tes Valencia November mendatang, awal Desember. Padahal, hanya ada empat hari tes resmi sepanjang 2027 sebelum balapan pertama pada awal Maret.

Kondisi ini membuat para pembalap yang pindah pabrikan berada dalam posisi defisit pengalaman. Mereka tidak hanya tertinggal dari pembalap seperti Marc Marquez yang sudah mengendarai Ducati 850cc di Brno dan akan kembali mengujinya di Red Bull Ring, tetapi juga dari para rookie yang bisa tampil di Shakedown Sepang. Terlebih lagi, Nicolo Bulega, yang memiliki pengalaman ban Pirelli dari WorldSBK dan terlibat dalam program pengujian Ducati 850cc sepanjang 2026, akan menjadi rookie yang eligible untuk Shakedown. Bulega jelas lebih kaya pengalaman dengan motor 2027 dibanding pembalap lain di grid.
Di Giannantonio pun berharap agar aturan shakedown diubah. "Yang terjadi jelas tidak menyenangkan bagi saya, karena kami hanya punya empat hari untuk memahami motor baru—dalam kasus saya, tim baru, ban baru," ujarnya. "Saya tahu Fabio Quartararo bilang baginya empat hari cukup. Tapi jujur, Anda harus sangat beruntung dalam empat hari bisa menemukan setup sempurna, keseimbangan sempurna, segalanya sempurna untuk bisa menang di balapan pertama."
Pembalap Italia itu menambahkan bahwa saat ini Bulega adalah sosok dengan pengalaman terbanyak pada motor baru. "Akan ada lebih banyak pembalap yang mencoba motor baru, jadi mereka juga punya keuntungan. Tapi di sisi saya, saya ingin punya lebih banyak waktu untuk siap sebaik mungkin di balapan pertama. Jadi, saat ini, saya rasa segalanya tidak berjalan adil untuk semua orang."
Di Giannantonio juga menyoroti sulitnya memperjuangkan perubahan karena tidak adanya asosiasi pembalap yang solid. "Sangat sulit, karena saat ini, seperti biasa, kami tidak punya asosiasi pembalap. Para pembalap yang bisa menjadi bagian dari asosiasi pun bisa saja menentang perubahan. Situasinya rumit, dan saya pikir tidak banyak yang bisa dilakukan pihak-pihak terlibat, selain MotoGP sendiri yang bisa memutuskan berapa banyak waktu yang dimiliki pembalap sebelum balapan pertama."
"Regulasi motor latihan kami cukup ketat. Saya pikir kita harus menerapkan hal serupa untuk tahun depan, terutama untuk balapan awal, karena jelas tidak adil bagi semua orang."
Sementara itu, Luca Marini yang juga pindah tim dan pabrikan ke Red Bull KTM Tech3, memilih sikap berbeda. Ia tidak terlalu mempermasalahkan hanya empat hari tes di tahun baru. "Aturan shakedown saat ini memang hanya untuk rookie dan test rider, jadi kami harus beradaptasi dan melakukan yang terbaik. Kami pembalap MotoGP dan dalam dua hari kami harus menyelesaikan semua pekerjaan. Terutama memahami ban dengan baik, dan juga motor baru bagi yang pindah pabrikan seperti saya, seperti Pecco yang pindah ke Aprilia, akan sedikit lebih rumit. Tapi kami siap untuk ini, tidak masalah."
Perbedaan pendapat ini menyoroti tantangan yang dihadapi MotoGP dalam transisi teknis besar-besaran. Dengan hanya empat hari tes resmi, pembalap yang pindah pabrikan harus berjuang ekstra keras. Sementara rookie seperti Bulega justru memiliki keuntungan pengalaman. Apakah MotoGP akan mengubah aturan shakedown demi keadilan? Waktu yang akan menjawab, tetapi bagi Di Giannantonio, setiap detik di atas motor baru sangat berarti.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!