Francesco Bagnaia kembali menelan pil pahit di MotoGP 2026. Pada sesi latihan Jumat di Red Bull Ring, pembalap Ducati itu gagal menembus Q2 secara langsung untuk kelima kalinya berturut-turut. Kegagalan ini memaksanya menjalani Q1 pada Sabtu, menambah daftar panjang kesulitan juara dunia tiga kali tersebut.
Kegagalan Bagnaia bukan sekadar catatan waktu. Sejak insiden 'fuorionda' di Misano, sorotan terhadapnya kian tajam. Tekanan psikologis dan teknis seolah menumpuk, membuat performanya jauh dari ekspektasi. Alessio Salucci, manajer tim VR46, mengungkapkan keprihatinannya secara terbuka.
“Saya merasa tidak enak melihatnya seperti ini. Sepertinya dia lupa cara mengendarai motor, padahal tidak begitu. Dia harus tenang dan tenang, mencoba membatasi kerusakan, berharap musim ini segera berakhir. Saya melihatnya tidak baik dan saya sangat menyesal, saya tidak mengerti apa yang tidak beres,” ujar Salucci kepada Sky Sport MotoGP.

Lebih lanjut, Salucci menyoroti hubungan Bagnaia dengan Ducati yang dinilainya sudah tidak harmonis lagi. “Hubungan dengan Ducati sudah retak, tidak seperti dulu lagi, ini jelas terlihat,” tegasnya. Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa kerja sama mereka tengah di ujung tanduk.
Sementara itu, rekan setim Bagnaia di VR46, Fabio Di Giannantonio, juga mengalami kesulitan pada Jumat. Namun, Salucci mengungkapkan bahwa motor GP26 justru tampil lebih baik dengan setup dasar. “Kami sudah mencoba berbagai perubahan, tapi malah mundur. Motor yang paling cepat tetap yang standar. Kami sadar lebih baik pakai base yang sudah ada sepanjang tahun dan fokus pada gaya mengendarai. Pengaruh pembalap lebih besar daripada mengubah setup,” jelasnya.
Pendekatan ini sejalan dengan apa yang sempat terungkap dalam percakapan off the record antara Bagnaia dan Di Giannantonio. Di Giannantonio sendiri berhasil kembali ke posisi 10 besar setelah kembali ke setup dasar. Sementara Bagnaia masih berkutat dengan masalah yang sama, dan tekanan pun semakin besar.
Melihat situasi ini, masa depan Bagnaia bersama Ducati menjadi tanda tanya besar. Apakah hubungan yang retak ini bisa diperbaiki, atau justru menjadi akhir dari kerja sama yang telah menghasilkan banyak gelar? Yang jelas, Red Bull Ring menjadi saksi bisu betapa dalamnya krisis yang dialami pembalap nomor 63 tersebut.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!