MotoGP, Sportrik Media - Piero Taramasso dari Michelin menegaskan keputusan pengurangan jarak balapan MotoGP Brasil 2026 di Goiania bukan disebabkan oleh faktor ban, melainkan kerusakan serius pada permukaan lintasan menjelang start.
Keputusan untuk memangkas jarak balapan dari 31 menjadi 23 lap diumumkan hanya beberapa menit sebelum sighting lap, dengan alasan resmi “degradasi lintasan”. Minimnya informasi awal memicu spekulasi bahwa performa dan ketahanan ban menjadi faktor utama, terutama setelah kelas Moto2 mampu menyelesaikan balapan penuh tanpa kendala berarti.
Namun, Piero Taramasso secara eksplisit menyatakan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan IRTA dan Dorna Sports, setelah ditemukan kerusakan signifikan pada aspal di sektor krusial sirkuit.

“Keputusan diambil tepat sebelum start oleh Dorna dan IRTA karena Tikungan 11 dan 12 mengalami kerusakan. Aspal mulai terkelupas, sehingga balapan dikurangi dari 31 menjadi 23 lap,” ujar Taramasso.
Kerusakan lintasan tersebut kemudian dikonfirmasi oleh sejumlah pembalap MotoGP yang melaporkan adanya serpihan batu kecil di permukaan trek, meningkatkan risiko keselamatan terutama pada fase akselerasi dan perubahan arah di sektor tersebut.
Dari sisi teknis, distribusi pilihan ban tetap konsisten di antara mayoritas pembalap. Sebanyak 15 pembalap menggunakan kombinasi ban depan keras dan belakang medium, sementara tujuh lainnya memilih opsi ban belakang lunak. Hal ini menunjukkan tidak adanya tekanan ekstrem terhadap degradasi ban yang dapat memaksa perubahan strategi secara kolektif.
“Secara keseluruhan performa sangat baik. Keseimbangan motor meningkat, catatan waktu putaran cepat dan sangat konsisten hingga akhir balapan,” lanjut Taramasso.
Data performa memperkuat klaim tersebut. Beberapa pembalap justru mencatatkan lap terbaik mereka pada fase akhir balapan, termasuk Marc Marquez yang mencatat waktu terbaik di lap ke-23, serta Fabio Di Giannantonio di lap ke-22. Tren ini mengindikasikan bahwa daya tahan ban tidak menjadi faktor pembatas dalam kondisi lintasan yang menuntut.
Situasi unik ini juga terjadi setelah rangkaian gangguan sepanjang akhir pekan, termasuk penundaan Sprint Race akibat munculnya sinkhole di lintasan lurus utama Sirkuit Goiania, yang untuk pertama kalinya kembali menggelar MotoGP sejak 1989. Faktor infrastruktur lintasan menjadi sorotan utama dibanding aspek teknis motor atau ban.
Sebagai pemasok tunggal ban MotoGP, Michelin menilai akhir pekan ini tetap memberikan validasi positif terhadap performa kompon ban dalam kondisi ekstrem. Konsistensi waktu lap hingga fase akhir menjadi indikator bahwa alokasi ban bekerja sesuai ekspektasi teknis.
“Untuk pertama kalinya di sini, dalam kondisi yang sangat sulit dan lintasan yang menuntut, ini menjadi tes yang positif bagi kami,” tutup Taramasso.
Dengan berakhirnya seri Brasil yang penuh tantangan, fokus kejuaraan kini beralih ke putaran berikutnya di Circuit of the Americas, Austin, di mana MotoGP akan kembali menggunakan alokasi ban standar. Evaluasi terhadap kondisi lintasan Goiania diperkirakan akan menjadi perhatian utama sebelum kemungkinan kembalinya event ini di kalender mendatang.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!