MotoGP, Sportrik Media - Pedro Acosta dari tim KTM menegaskan bahwa dirinya tidak seharusnya memimpin klasemen MotoGP 2026, meskipun mencatat awal musim impresif pada seri pembuka di Thailand.
Pembalap muda asal Spanyol tersebut mengumpulkan 32 dari maksimal 37 poin yang tersedia di Thailand, termasuk kemenangan Sprint pertamanya—yang dipengaruhi penalti untuk Marc Marquez—serta finis kedua di balapan utama di belakang Marco Bezzecchi. Hasil tersebut cukup untuk membawanya ke puncak klasemen sementara, sekaligus menjadi pencapaian penting bagi KTM.
Meski demikian, Acosta tetap menurunkan ekspektasi menjelang MotoGP Brasil 2026. Ia menegaskan bahwa target realistis tim masih berfokus pada konsistensi finis lima besar, bukan mempertahankan posisi puncak klasemen.

“Biasanya kami cukup cepat di sirkuit baru, tetapi Anda tidak pernah tahu. Kami harus melihat posisi kami di FP1 dan dari sana menentukan target yang jelas,” ujar Acosta.
“Kami tahu bahwa kami seharusnya tidak memimpin klasemen. Untuk itu, kami harus tetap fokus pada target utama, yaitu selalu finis di lima besar dan menghindari kesalahan seperti yang sering saya lakukan di awal musim lalu.”
Ia juga menambahkan bahwa saat ini dirinya datang ke Brasil tanpa ekspektasi berlebihan, sebagai bagian dari pendekatan yang lebih terukur dalam menghadapi musim panjang MotoGP.
“Mari kita lihat apa yang terjadi di Brasil, saat ini saya tidak memiliki ekspektasi,” tambahnya.
Meskipun bersikap realistis, Acosta mengakui bahwa memimpin klasemen tetap memberikan motivasi tersendiri, terutama dalam fase awal kariernya di kelas utama.
“Tentu saja sangat menyenangkan melihat nama Anda di puncak klasemen MotoGP, tetapi seperti yang saya katakan, itu bukan target utama kami saat ini,” jelasnya.
Dari sisi performa, Acosta menilai peningkatan terbesar dibandingkan musim sebelumnya terletak pada kemampuannya menghindari kesalahan. Ia mengakui bahwa pada awal musim 2025, pendekatan emosional justru berdampak negatif terhadap konsistensinya di lintasan.
“Tahun lalu di awal musim, saya cukup emosional dan cenderung negatif. Sekarang saya mencoba lebih tenang dan fokus,” ungkapnya.
Secara teknis, ia menyoroti peningkatan signifikan dalam manajemen ban sebagai faktor utama di balik performa kompetitif KTM. Kemampuan menjaga degradasi ban sepanjang balapan menjadi kunci untuk mempertahankan kecepatan hingga akhir stint.
“Sekarang kami bisa bertahan lebih baik dengan ban selama balapan, dan itu adalah langkah pertama untuk menjadi kompetitif,” jelas Acosta.
“Selain itu, motor menjadi lebih mudah dikendarai, tim bekerja lebih cepat, dan dari Mattighofen semua pihak mendorong maksimal sepanjang musim dingin. Ini kombinasi banyak faktor.”
Di sisi lain, rekan setimnya Brad Binder saat ini menjadi pembalap KTM berikutnya di klasemen, berada di posisi keenam, menunjukkan bahwa performa pabrikan Austria tersebut mulai stabil di awal musim.
MotoGP Brasil 2026 akan menjadi ujian berikutnya bagi Acosta untuk membuktikan apakah performa di Thailand dapat dipertahankan. Dengan pendekatan tanpa tekanan dan fokus pada konsistensi, hasil di Brasil akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah persaingan gelar di fase awal musim.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!