Pemasok ban tunggal MotoGP, Michelin, mengambil langkah taktis menjelang balapan utama Grand Prix Jepang setelah masalah suhu tinggi mendera sejumlah pembalap pada sesi sprint di Sirkuit Motegi. Situasi krusial ini memaksa pabrikan asal Prancis tersebut melarang penggunaan kompon lunak demi alasan keselamatan, menyusul degradasi ekstrem yang terlihat jelas pada beberapa kuda besi.
Jorge Martin dan Francesco Bagnaia menjadi korban utama dari lonjakan temperatur pada ban belakang kompon lunak. Aspal baru Motegi yang memiliki daya cengkeram tinggi, dipadu dengan temperatur lintasan mencapai 40 derajat Celsius serta ritme balap yang sembilan detik lebih cepat dari edisi sebelumnya, menciptakan tekanan termal luar biasa pada perangkat ban.
Piero Taramasso selaku manajer motorsport Michelin mengonfirmasi bahwa karakteristik trek dan kecepatan tinggi memicu pemanasan berlebih pada ban belakang. Sebagai respons atas anomali tersebut, Michelin menyarankan penggunaan kompon paling keras dengan konstruksi ban belakang yang diperkuat untuk menghadapi durasi balapan hari Minggu yang jauh lebih panjang.

Sesi sprint sendiri diwarnai oleh kemenangan dominan yang diamankan oleh Marc Marquez. Di sisi lain, kondisi ban belakang motor Martin tampak hancur total saat menyentuh garis finis, memicu kekhawatiran serius mengenai daya tahan kompon di paruh akhir balapan.
Keputusan darurat ini langsung mengubah peta strategi seluruh tim dalam mencari setup optimal. Dengan larangan kompon lunak serta rekomendasi beralih ke ban keras yang diperkuat, para insinyur harus bekerja ekstra keras untuk memastikan daya cengkeram dan keawetan ban tetap terjaga sepanjang GP Jepang.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!