Max Verstappen Ungkap 'Masalah Besar' Saat Peluang Juara Terancam di Qatar 2025

Max Verstappen Ungkap 'Masalah Besar' Saat Peluang Juara Terancam di Qatar 2025
© XPBimages

Formula 1, Sportrik Media - Max Verstappen mengungkap masalah bouncing yang parah pada Red Bull-nya selama Sprint Qatar 2025, menyebutnya sebagai "masalah besar" yang mengancam peluang gelar juara dunia. Finis keempat di sprint membuatnya tertinggal 25 poin dari Lando Norris, memaksa ia harus finis di depan pembalap McLaren itu di balapan utama untuk bertahan di perburuan gelar.

 

Verstappen memulai sprint dari posisi keenam di Lusail International Circuit. Start impresif membawanya ke urutan keempat setelah melewati Fernando Alonso dan Yuki Tsunoda di lap pembuka. Namun, tekanan awal terhadap Lando Norris cepat memudar saat mobil RB21 mulai bergoyang hebat. Selain itu, ia kesulitan mengikuti kecepatan McLaren di tengah degradasi ban yang memperburuk kondisi. Analisis lebih dalam menunjukkan setup agresif Red Bull gagal di trek berkecepatan tinggi ini, kontras dengan dominasi Oscar Piastri yang meraih kemenangan sprint.

 

Setelah finis keempat, Verstappen mengeluh via radio tim tentang perilaku mobil yang tidak stabil. Meskipun awalnya kompetitif, ia terpaksa balapan sendirian setelah lap ketiga. "Ya, ini sulit sejauh ini. Startnya bagus, dan saya pikir tiga lap pertama, saya dorong lebih keras dibanding yang di depan, untuk coba dapat kesempatan, tahu bahwa overtaking sulit," ujar Verstappen kepada Sky F1. Namun, masalah bouncing mencegahnya bertahan di grup depan.

 

ADVERTISEMENT

Kutipan lengkap Verstappen menekankan urgensi perbaikan: "Tapi setelah itu, kamu masuk ke masalah yang sama. Dan tentu saja, semakin aus ban, semakin terasa isu semacam itu. Dan itu pada dasarnya mencegah kami benar-benar mengikuti mereka. Saya pada dasarnya hanya balapan sendiri di sana. Ya, kami perlu kerjakan itu, coba hilangkan bouncing, jumping, understeer secara umum di tikungan panjang. Itu masih masalah besar." Pernyataan ini mencerminkan frustrasi juara dunia empat kali, yang kini bergantung pada penyesuaian setup pasca-sprint untuk kualifikasi utama.

 

Dampaknya terhadap klasemen semakin genting. Dengan Piastri menang sprint dan Norris finis ketiga, Verstappen kini 25 poin di belakang pemuncak klasemen. Dibandingkan rival, McLaren unggul di handling Lusail berkat MCL39 yang stabil, sementara Red Bull di bawah Christian Horner kesulitan dengan aerodinamika ground-effect. Analisis teknis menyoroti kerusakan floor pasca-kontak gravel di SQ3, yang mungkin memperburuk bouncing di kecepatan tinggi. Bandingkan dengan Yuki Tsunoda, rekan setim yang finis kelima meski setup serupa, menandakan ketidakpastian di Oracle Red Bull Racing.

 

Strategi tim kini krusial menjelang balapan utama dan finale Abu Dhabi. Jika bouncing berlanjut, peluang Verstappen untuk finis di depan Norris menipis, terutama dengan hanya satu weekend tersisa. Namun, data sprint bisa dimanfaatkan untuk revisi suspensi, mirip pemulihan Red Bull di trek sebelumnya. Secara keseluruhan, episode ini menguji adaptasi tim di tengah persaingan ketat, di mana kesalahan setup bisa berujung hilangnya gelar.

 

Verstappen menghadapi ujian terberat di Qatar, di mana mengatasi "masalah besar" ini menjadi kunci bertahan di title fight. Dengan dukungan penggemar, Red Bull diharapkan bangkit untuk finale dramatis. Ikuti update lengkap di Sportrik.com.

Diskusi & Komentar (0)

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Live Commentary / Indonesia Live Komentar

LIVE NOW

WRC 2026, Analisis & Rumor Hangat

TONTON SEKARANG
RECOMMENDED FOR YOU