Mario Andretti mungkin bukan nama yang asing bagi penggemar Formula 1. Namun, tahukah Anda bahwa kemenangan terakhirnya di ajang ini terjadi di sirkuit Zandvoort, Belanda, pada 27 Agustus 1978? Ya, tepat 48 tahun lalu, pembalap berjuluk 'Piedone' itu berdiri di puncak podium, mengukir sejarah yang tak akan terlupakan, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk tim Lotus.
Saat itu, Mario Andretti dan rekan setimnya, Ronnie Peterson, berhasil mencetak finis 1-2 yang menjadi double terakhir bagi Lotus di Formula 1. Kemenangan ini juga menjadi penentu gelar juara dunia konstruktor bagi tim asal Inggris tersebut, sekaligus menandai akhir dari era keemasan mereka.
Dominasi 'Black Beauty'
Musim 1978 memang milik Lotus. Dengan mobil legendaris Lotus 79 yang dijuluki 'Black Beauty' berkat livery hitam khas sponsor John Player Special, tim besutan Colin Chapman ini tampil superior. Dari 16 seri yang digelar, Lotus memenangkan 8 di antaranya, dengan Andretti menyumbang 6 kemenangan. Performa impresif ini mengantarkan Andretti meraih gelar juara dunia pembalap untuk pertama dan satu-satunya kalinya, sekaligus menjadi pembalap Amerika Serikat terakhir yang melakukannya setelah Phil Hill.

Datang ke Belanda dengan status pemuncak klasemen, Andretti butuh hasil sempurna untuk mengunci gelar lebih cepat. Kualifikasi berjalan mulus, dengan Andretti merebut pole position di depan Peterson. Saat balapan dimulai, keduanya langsung melesat dan tak pernah terkejar. Sementara di belakang, Niki Lauda yang mengendarai Brabham-Alfa Romeo harus puas di posisi ketiga. Pertarungan sengit justru terjadi di luar podium, dengan John Watson dan Emerson Fittipaldi naik beberapa posisi setelah memanfaatkan masalah teknis yang menimpa Ferrari milik Carlos Reutemann dan Gilles Villeneuve.
Kemenangan ini menjadi yang ke-12 bagi Andretti sepanjang kariernya, tetapi sayangnya menjadi yang terakhir. Meski bertahan di Lotus hingga 1980, ia gagal menambah koleksi kemenangannya, termasuk saat membela Alfa Romeo di 1981 dan beberapa balapan bersama Ferrari di 1982. Meski begitu, namanya tetap dikenang sebagai salah satu legenda balap, dan momen di Zandvoort itu menjadi bukti kehebatannya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!