Liam Lawson meluapkan kekecewaannya yang mendalam setelah melakukan kesalahan fatal pada sesi penentuan posisi start, meski sebelumnya tampil cemerlang di sesi sprint yang diguyur hujan lebat. Pembalap asal Selandia Baru tersebut harus puas mengamankan posisi kesembilan di sesi kualifikasi utama, sebuah hasil yang dianggapnya jauh di bawah potensi mobil Racing Bulls akhir pekan ini. Meskipun posisinya sedikit terangkat ke P8 akibat penalti mesin yang menimpa George Russell, Lawson tetap merasa frustrasi karena harus memulai lomba dari sisi trek yang kurang menguntungkan di Marina Bay.
Berbicara kepada Sky Sports F1 usai sesi, Lawson secara terbuka mengakui bahwa dirinya terlalu memaksakan diri pada percobaan terakhir di Q3 demi mengalahkan catatan waktu Pierre Gasly dari tim Alpine. Menurutnya, paket kecepatan VCARB sangat kompetitif sepanjang akhir pekan, namun ambisi yang berlebihan justru berbuah petaka. Kami sedang bertaruh untuk satu posisi saja, dan sayangnya sekarang kami berada di sisi grid yang buruk sementara Pierre berada di sisi yang bagus besok, jadi ini sangat membuat frustrasi, ucap Lawson dengan nada menyesal. Kami lebih cepat hari ini, dan saya merasa seperti orang bodoh di Q3 karena mencoba terlalu keras, imbuhnya.
Kekecewaan di kualifikasi tersebut kontras dengan pencapaian impresif Lawson sebelumnya pada balapan sprint yang diwarnai kondisi trek basah akibat diguyur hujan deras sesaat sebelum lampu padam. Memulai jalannya lomba dengan penuh kehati-hatian di atas ban intermediate yang permukaannya cepat mengering, pembalap berusia 24 tahun itu mampu menjaga ritme kompetitifnya di barisan tengah. Puncaknya terjadi pada lap pemungkas ketika insiden dramatis melibatkan duet Lando Norris dan Oscar Piastri membuka jalan bagi Lawson untuk naik ke posisi kelima, sekaligus mengemas empat poin krusial yang memperlebar jarak keunggulan Racing Bulls atas Alpine di klasemen konstruktor.

Kepala Tim Racing Bulls, Alan Permane, memberikan pujian tinggi atas performa luar biasa anak asuhnya tersebut di tengah situasi sirkuit yang sangat menantang. Permane bahkan melontarkan candaan ringan untuk berterima kasih kepada Norris atas insiden yang menguntungkan timnya. Ya, Lando melakukan hal persis seperti yang dia lakukan untuk kami akhir pekan lalu, jadi terima kasih Lando, ujar Permane sambil tersenyum. Ia menilai bahwa cara mengemudi Lawson sangat terukur, cepat, dan mampu meninggalkan mobil-mobil di belakangnya tanpa celah.
Menanggapi mentalitas sang pembalap di tengah spekulasi masa depannya, Permane menegaskan bahwa Lawson tetap menunjukkan profesionalisme tinggi dengan fokus sepenuhnya pada tugas di lintasan. Dia sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi, seperti halnya orang lain, tetapi dia hanya menundukkan kepala dan memberikan hasil terbaik di setiap akhir pekan, dan kami tidak bisa meminta lebih dari itu darinya, pungkas Permane mengapresiasi konsistensi sang pembalap.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!