Formula 1, Sportrik Media - Lando Norris mengakui bahwa peluang pertamanya merebut gelar juara pembalap F1 2025 bergantung pada sesi kualifikasi Grand Prix Qatar, setelah menyebut sirkuit Lusail "terlalu sulit" untuk overtaking pasca-balapan sprint yang mengecewakan. Finis ketiga di sprint mempertahankan keunggulannya 22 poin atas rekan setim Oscar Piastri, sementara Max Verstappen tertinggal 25 poin, dengan 50 poin tersisa dari dua grand prix terakhir.
Norris memulai dan finis ketiga di sprint 19 lap yang relatif membosankan, dengan ancaman utama datang dari Verstappen yang naik ke posisi keempat berkat start brilian dari grid keenam. Namun, satu upaya agresif Verstappen gagal menembus jarak DRS sebelum Norris lepas dari slipstream, memungkinkan ia finis di belakang Piastri yang menang dan George Russell dari Mercedes. Analisis lebih dalam mengungkapkan bahwa karakteristik ground-effect mobil F1 saat ini memperburuk kesulitan following di Lusail, di mana zona DRS yang pendek membatasi peluang passing di luar Turn 1.
Dalam wawancara pasca-sprint dengan Sky Sports F1, Norris awalnya meremehkan ancaman Verstappen. "Saya bahkan tidak melihatnya. Saya hanya melihat George di depan. Saya coba maju. Kami cukup dekat di start, tapi itu bagus. Saya tidak tahu apa yang terjadi di belakang," ujar Norris. Ia kemudian beralih ke dinamika balapan, menekankan tantangan overtaking. "Stint panjang terasa begitu, banyak pushing. Besok akan jadi balapan sulit, tidak mudah passing di sini. Terlalu sulit, jadi semuanya tentang kualifikasi."
Kutipan lengkap Norris menyoroti optimisme terkendali: "Ya. George hampir pole. Dia tunjukkan Mercedes cepat, dan dia lakukan pekerjaan sangat, sangat bagus, jadi akan ketat. Saya rasa tidak akan mudah. Tapi tim beri kami mobil sangat bagus lagi, seperti sepanjang tahun ini, dan itu cepat. Ini lap neraka di kualifikasi di sini. Jadi saya nantikan itu." Pernyataan ini mencerminkan pengakuan bahwa kesalahan di sprint qualifying—seperti lap terakhir yang terganggu lalu lintas—membuat posisi ketiga menjadi beban, meskipun ia menolak pendekatan defensif.
Dampak terhadap perburuan gelar semakin jelas pasca-sprint. Norris bisa menyegel juara di Qatar jika finis empat poin di depan Piastri dan tidak kalah poin dari Verstappen, membuat Abu Dhabi tak relevan. Dibandingkan rival, MCL39 McLaren unggul di kecepatan satu lap Lusail, tapi degradasi ban di sprint menunjukkan kelemahan strategi pit. Analisis dari pakar seperti George Russell menegaskan Turn 1 sebagai satu-satunya peluang passing, sementara Verstappen kesulitan dengan bouncing pada RB21. Secara statistik, Norris memimpin dengan 398 poin, Piastri 376, dan Verstappen 373, membuat kualifikasi krusial untuk McLaren Formula 1 Team.
Strategi di bawah Andrea Stella kini fokus pada setup aerodinamika untuk grip ekstra, kontras dengan pendekatan agresif Red Bull di bawah Christian Horner. Jika Norris amankan pole atau front row, prospek gelar pertamanya melonjak, terutama dengan track record Piastri yang inkonsisten belakangan. Namun, tekanan mental—seperti kegagalan Qatar 2023—bisa diuji, di mana fokus kualifikasi menjadi kunci menghindari skenario defensif di balapan utama.
Norris menghadapi momen penentu di Qatar, di mana mengatasi kesulitan overtaking bisa mengukir sejarah. Dengan dukungan tim solid, McLaren diharapkan dominasi akhir musim. Ikuti update lengkap di Sportrik.com.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!