Sesi balapan pendek atau sprint MotoGP di Sirkuit Mandalika, Indonesia, menyisakan pekerjaan rumah yang masif bagi kubu Francesco Bagnaia. Pembalap asal Italia tersebut harus puas finis di posisi kedelapan setelah memulai lomba dari grid kesepuluh, tertinggal jauh hingga sepuluh detik dari rekan setimnya yang keluar sebagai juara.
Permasalahan utama yang mendera sang juara dunia dua kali ini terletak pada lambatnya ban belakang mencapai suhu optimal. Dalam paruh pertama lomba berdurasi 13 putaran tersebut, Bagnaia sempat kesulitan menemukan ritme kompetitif dan tertinggal dari pembalap muda Fermin Aldeguer yang mengendarai motor Gresini-Ducati.
Tekanan baru dirasakan oleh Bagnaia jelang garis finis ketika Fabio Quartararo mulai mendekat dengan motor Yamaha miliknya. Bagnaia mengakui bahwa kehadiran sang rival asal Prancis di lap-lap akhir justru memaksanya untuk kembali fokus dan mengerahkan kemampuan terbaik demi mempertahankan posisi poin penting.

Secara jujur, Bagnaia mengevaluasi bahwa kegagalannya bersaing di barisan depan pada awal balapan merupakan kesalahan pribadinya karena gagal mentransfer energi yang cukup ke ban belakang. Karakteristik cengkeraman atau grip aspal yang tergolong rendah di Mandalika membuat perangkat motornya baru merespons dengan baik setelah melewati tujuh putaran pertama.
Meskipun demikian, setelah ban belakangnya berfungsi optimal, Bagnaia mengklaim bahwa catatan waktu putarannya mampu menyamai kecepatan para pembalap di depannya seperti Alex Marquez dan Pedro Acosta. Menyongsong balapan utama Grand Prix, tim pabrikan berupaya keras menemukan solusi set-up mekanis untuk mendongkrak traksi roda belakang demi menjaga peluangnya di papan atas klasemen kejuaraan dunia.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!