Akhir pekan balap di Sirkuit Internasional Lusail menghadirkan kejutan menarik bagi Enea Bastianini yang secara mengejutkan mampu menjelma sebagai pembalap terbaik dari pabrikan Austria tersebut. Di tengah transisi kariernya menuju petualangan baru bersama Trackhouse Racing dan Aprilia musim depan, sang pembalap berjuluk The Beast ini justru memperlihatkan kecepatan sensasional di atas motor RC16 pada sesi latihan pembuka MotoGP Qatar.
Pencapaian posisi keenam dalam catatan waktu kombinasi membuktikan bahwa potensi kecepatan satu lap RC16 berada di tangan yang tepat. Pembalap bernomor start 23 ini bahkan mampu memangkas catatan waktunya secara signifikan dibanding musim-musim sebelumnya, terpaut kurang dari empat persepuluh detik saja dari sang pemuncak klasemen sementara, Marc Marquez. Situasi ini kontras dengan rekan satu pabrikannya, di mana Pedro Acosta justru harus rela terlempar keluar dari sepuluh besar dan berjuang dari Q1, sementara Brad Binder harus susah payah mengamankan tiket otomatis ke Q2.
Kendati demikian, performa kilat dalam time attack tersebut tidak serta-merta membuat sang rider asal Italia tersenyum lebar di garasi tim Tech3. Ada anomali besar yang justru membalikkan karakteristik khas sang pembalap sepanjang kariernya di kelas premier. Selama ini, pemilik gaya balap halus tersebut dikenal sebagai spesialis paruh kedua balapan yang sangat mahir menjaga keawetan kompon ban, namun kerap kedodoran saat harus mencetak satu catatan waktu tercepat di sesi kualifikasi.

"Rasanya sangat mengerikan pada sesi pagi, saya sama sekali tidak bisa menemukan ritme dan merasa tidak ada cengkeraman sama sekali di atas aspal," ungkap Bastianini menggambarkan penderitaannya pada sesi latihan bebas pertama ketika belum menggunakan ban lunak. Masalah pelik justru muncul ketika ia harus melibas simulasi balapan panjang menggunakan ban kompon medium yang biasanya menjadi senjata utamanya.
Situasi pelik ini menghadirkan teka-teki tersendiri bagi insinyur tim jelang sesi kualifikasi dan balapan utama di bawah sorotan lampu buatan gurun Lusail. Ketika masalah cengkeraman ban balap belum sepenuhnya menemukan titik terang, kecepatan kilat satu lap yang baru saja ia temukan bisa menjadi pedang bermata dua yang menentukan arah persaingan ketat di barisan depan akhir pekan ini.




Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!