Formula 1, Sportrik Media – Penasehat Helmut Marko dari Red Bull mengungkap bahwa puing karbon dari tabrakan awal menjadi penyebab bocor ban depan kanan Max Verstappen di Grand Prix Sao Paulo 2025, yang merusak strategi tim dan memperlebar defisit gelar sang juara dunia lawan Lando Norris. Masalah ini, yang memaksa pit darurat, menyoroti risiko tak terduga di sirkuit Interlagos yang penuh kekacauan.
Verstappen memulai balapan dari pitlane setelah modifikasi ekstensif mobil, termasuk pemasangan mesin baru, dan berhasil naik ke posisi podium ketiga melalui 71 lap intens. Namun, kemajuannya terhambat tepat setelah restart safety car di lap keenam, saat ban Pirelli hard compound-nya mengalami bocor lambat selama periode virtual safety car. Strategi Red Bull awalnya dirancang untuk bertahan lama dengan ban keras, memanfaatkan pitstop rival yang menggunakan soft atau medium, dengan potensi menyelesaikan balapan hanya satu kali pit. Marko yakin, tanpa insiden ini, Verstappen bisa finis kedua.
"Kami rencanakan tinggal lebih lama di lintasan. Dan, tidak seperti pembalap lain, Max punya pace bagus pada ban keras," tulisnya di kolom Speedweek. Selain itu, performa ban C1 Pirelli yang misterius di Brasil membuat banyak rival kesulitan, tapi Verstappen justru kompetitif.
Analisis lebih dalam mengonfirmasi bahwa bocor ban disebabkan puing karbon dari insiden pembuka, kemungkinan tabrakan Lance Stroll dengan Gabriel Bortoleto atau Franco Colapinto lawan Lewis Hamilton. Tim Red Bull cepat mendeteksi melalui data telemetry, memungkinkan pit yang beruntung bertepatan dengan VSC mencegah kerugian lebih parah. Akibatnya, strategi bergeser ke ban medium, meski Verstappen tetap tunjukkan kecepatan superior, finis 46 detik di belakang pemenang Norris.
Insiden ini memperbesar selisih poin gelar Verstappen menjadi 49, dengan hanya dua balapan tersisa di musim 2025, secara efektif mengakhiri peluang comeback-nya. Bandingkan dengan kemenangan dominan Verstappen di GP Brasil 2023 dari pole; kali ini, start pitlane akibat kuota power unit malah jadi modal awal perjuangan.
Marko menekankan peran keberuntungan timing VSC, tapi puji ketangguhan Verstappen di situasi sulit. "Max ambil bocor dari puing karbon tabrakan mobil lain. Untung, insinyur data kami perhatikan dan beri peringatan langsung," tambahnya. Dari sisi teknis, degradasi ban keras yang rendah seharusnya menguntungkan Red Bull, tapi puing di sirkuit jalanan menambah lapisan risiko. Prospek ke depan, kejadian ini mendorong tim untuk perbaiki reliabilitas menjelang Abu Dhabi, di mana Verstappen membutuhkan kemenangan absolut untuk lawan McLaren yang kini unggul di klasemen konstruktur.
Dalam konteks persaingan 2025, bocor ban ini jadi pukulan telak bagi harapan Verstappen, tapi bukti talenta empat kali juara dunia. Red Bull perlu adaptasi cepat untuk tutup musim dengan kuat, hindari pengulangan di grand final. Ulasan mendalam ungkap bahwa pengelolaan puing krusial untuk evolusi F1 ke depan, terutama dengan Christian Horner yang pimpin strategi tim.



Discussion (0)
Please login to join the discussion.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!