Ketika lampu padam di sirkuit Motegi, Marc Marquez langsung membuktikan ucapannya untuk tampil habis-habisan sejak awal. Memulai balapan dari posisi kedua di belakang sang rival utama, pebalap andalan Ducati ini langsung merebut pimpinan lomba di Tikungan 1 dan melesat tanpa tersentuh hingga garis finis.
Kemenangan mutlak di sesi Sprint ini membuat perburuan gelar juara dunia semakin membara. Tambahan poin maksimal membuat pebalap bernomor 93 tersebut kini hanya terpaut tujuh angka saja di klasemen sementara dari Jorge Martin, yang harus puas finis di posisi ketiga setelah kehilangan ritme tandingnya.
Menanggapi start kilat yang menjadi senjata utamanya, Marquez menyebut aksi tersebut murni lahir dari kepekaan insting di atas lintasan. Meski demikian, ia mengakui bahwa elemen kejutan dari start agresif lebih efektif dimanfaatkan pada balapan pendek hari Sabtu ketimbang grand prix utama hari Minggu.

Konsistensi performa ban juga menjadi kunci kesuksesan sang juara dunia di Motegi. Ia merasa nyaman dengan kompon lunak yang dipakai pada hari Sabtu, meski tim masih harus mengevaluasi opsi terbaik untuk balapan utama dengan ban medium esok hari.
Di sisi lain, Marquez turut mengomentari hasil kurang ideal yang dialami rekan satu pabrikannya, Pecco Bagnaia. Menurutnya, analisis data mendalam dari seluruh pebalap Ducati akan menjadi krusial untuk mengamankan strategi optimal dalam menghadapi persaingan ketat sisa musim ini.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!