Liam Lawson kembali ke Grand Prix Belanda sebagai pembalap dengan poin terbanyak di luar empat tim teratas. Tiga tahun setelah debut mengejutkannya, Liam Lawson akhirnya menemukan ritme yang stabil di F1.
Perjalanan karier pembalap asal Selandia Baru ini memang tidak mulus. Sejak menggantikan Daniel Ricciardo yang cedera pada 2023, ia harus melalui pasang surut. Kini, dengan duduk di posisi kesembilan klasemen, hanya terpaut 25 poin dari Isack Hadjar di Red Bull, Lawson menunjukkan bahwa dirinya mampu bertahan dalam persaingan ketat antar tim Red Bull.
Banyak yang sempat mencoret namanya setelah masa sulit di Red Bull dan diragukan di Racing Bulls. Namun, Lawson adalah pebalap yang ulet. Ia mendengarkan masukan, bekerja keras, dan fokus pada detail yang membuatnya lebih cepat. Hasilnya, performanya meningkat drastis dalam setahun terakhir.

Bos timnya, Alan Permane, mengakui perkembangan ini. "Dia berkembang pesat. Saya bisa melihat dia lebih bahagia, dan dalam balapannya dia lebih fokus. Dia lebih cepat," ujarnya kepada The Race. Permane juga menyoroti bahwa Lawson kini lebih terbuka menerima saran, yang membangun kepercayaan antara pebalap dan tim.
Lawson sendiri tidak merasa perubahannya terlalu dramatis. "Mudah untuk merasa, 'oh, saya membuat langkah signifikan sejak tahun lalu'. Tapi sebenarnya tidak banyak yang berubah, jujur saja," katanya. Namun, dalam F1, detail kecil sangat berarti.
Dengan rekan setim Arvid Lindblad yang tampil impresif dan Nikola Tsolov yang memimpin F2, Lawson tidak bisa berpuas diri. Tetapi dengan berada di posisi kesembilan, ia telah membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan. Kini, semua mata tertuju padanya untuk terus konsisten di sisa musim.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!