Pembalap Jack Miller tidak dapat menyembunyikan rasa frustrasinya yang mendalam setelah akhir pekan yang kembali berjalan rumit bersama Yamaha. Berbagai kendala teknis mulai dari masalah konsumsi bahan bakar yang tinggi, minimnya stabilitas saat melakukan pengereman, hingga karakter motor yang berubah menjadi sangat sulit dikendalikan ketika balapan utama berlangsung kembali menghantui sang pembalap asal Australia tersebut. Situasi pelik ini memaksa garasi Pramac untuk segera bekerja keras mencari solusi secepat mungkin sebelum seri berikutnya digelar di Australia.
Tidak hanya menyoroti performa kuda besi miliknya di atas lintasan, kritikan tajam juga dilayangkan terhadap padatnya agenda promosi di ajang balap motor paling bergengsi di dunia ini. Dilansir dari Motosan.es, dalam wawancara bersama kolaborator Manuel Pecino usai GP Indonesia, ia membeberkan betapa sulitnya menjinakkan motor saat setelan balap diterapkan. Tadi pagi saya sempat merasa cukup baik, tetapi begitu turun ke trek dengan konfigurasi balap, motor menjadi nyaris tidak bisa dikendarai. Saya tidak tahu apakah ini karena peta bahan bakar atau masalah lain, namun ada sesuatu yang membuat motor ini terlalu sulit dikendalikan. Saya kesulitan menghentikannya dan mesin tidak merespons dengan mulus, ujar pembalap bernomor punggung tersebut.
Kendala teknis tersebut secara langsung merusak potensi kompetitifnya di lintasan. Konsumsi bahan bakar selalu terlalu tinggi dan kami harus terus memantau hal itu. Pada akhirnya, kami terus-menerus menggunakan peta lean untuk penghematan bahan bakar, sehingga pengereman mesin tidak bekerja seperti sedia kala sepanjang akhir pekan. Saya tidak bisa menghentikan motor atau membuatnya menikon dengan baik. Begitu saya mulai menekan, roda depan langsung terkunci dan saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tambahnya.

Di luar urusan teknis, tensi semakin memanas ketika ia mengomentari kebijakan baru berupa denda sebesar 5.000 euro bagi pembalap yang mangkir dari kewajiban promosi. Jika Anda seharusnya berada di sana, ya Anda harus datang. Saya rasa Anda tidak bisa memutuskan sendiri untuk tidak hadir, tegasnya tanpa basa-basi. Pernyataan tersebut semakin sengit ketika ia menyinggung perlakuan khusus bagi pembalap tertentu. Apa yang membuat seseorang begitu istimewa sehingga bisa pergi sementara kami semua harus masuk? Jika kami semua pergi, kami akan terlihat seperti orang bodoh. Tidak ada seorang pun yang berada di atas aturan.
Sindiran keras tersebut diyakini banyak pihak mengarah langsung kepada Marc Marquez yang sempat menjadi pusat kontroversi akibat absen dalam ajang balapan gokar di Jepang. Meski tidak menyebut nama secara gamblang, kritikan ini mempertegas ketidakpuasan para pembalap terhadap penerapan aturan yang dinilai tidak konsisten, sekaligus menuntut adanya keseimbangan antara tuntutan komersial promotor dengan kompensasi finansial yang diterima oleh para atlet.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!