Hyundai benar-benar serius memperkuat posisinya di pasar Eropa. Pabrikan asal Korea Selatan ini berkomitmen meluncurkan 41 model baru atau yang diperbarui hingga akhir dekade ini. Strategi agresif ini tidak hanya melibatkan merek utama Hyundai, tetapi juga lini premium Genesis, sebuah sinyal kuat bahwa mereka tidak akan mundur di tengah gempuran kompetisi dari merek-merek China yang semakin agresif.
Menurut laporan dari FormulaPassion, serangan produk ini akan menyentuh berbagai segmen. Mulai dari SUV listrik kompak yang dirancang khusus untuk konsumen Eropa, crossover listrik menengah, hingga sederet kendaraan komersial. Ini bukan sekadar penambahan model; ini adalah perombakan total lini produk untuk menjawab selera pasar yang dinamis.
Targetnya pun ambisius. Hyundai ingin menjual hampir empat kali lipat lebih banyak mobil listrik di Eropa pada 2030, melonjak dari sekitar 116.000 unit pada 2025 menjadi lebih dari 420.000 unit per tahun. Langkah awal dimulai dengan kehadiran Hyundai IONIQ 3 yang diproduksi di Eropa sebelum akhir tahun ini, disusul SUV kompak yang juga dibuat khusus untuk pasar Eropa.

Di sisi mesin konvensional, ada pula kejutan. Hyundai akan menghadirkan i20 baru yang terinspirasi dari model Brasil yang baru diluncurkan. Namun yang paling dinanti adalah pengganti Tucson, SUV terlaris mereka di Eropa, yang akan hadir dalam bentuk crossover yang lebih besar. Tidak menutup kemungkinan, Hyundai juga mengimpor Santa Fe versi listrik jarak jauh (EREV) yang diproduksi di AS, dengan karakter akselerasi yang mendekati mobil listrik murni.
Sementara itu, Genesis, merek premium Hyundai, juga punya rencana besar. Tahun depan mereka akan meluncurkan model listrik EREV global dengan klaim jarak tempuh melebihi 1.030 km, berkat baterai berperforma tinggi yang baru. Selain itu, ada versi hybrid dari SUV besar GV80 dan SUV listrik mewah GV90 yang siap meluncur. Meski pasar tujuan belum diumumkan, Eropa diprediksi menjadi target utama model-model premium ini.
Dengan rentetan model baru ini, Hyundai tidak hanya ingin mengejar volume, tetapi juga memperkuat citra sebagai pemain kunci dalam transisi energi di Eropa. Pertanyaannya, akankah strategi ini cukup untuk menggoyang dominasi pabrikan Eropa dan menahan laju pesaing dari China? Kita tunggu saja gebrakannya di jalanan.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!