MotoGP, Sportrik Media - Guenther Steiner memberikan penilaian mendalam setelah menjalani peran barunya bersama Tech3 KTM di MotoGP 2026, dengan sorotan khusus pada kompleksitas dan risiko ekstrem yang dihadapi para pembalap di level tertinggi kejuaraan dunia.
Pengalaman langsung Steiner di paddock MotoGP, khususnya saat seri Amerika Serikat di Circuit of The Americas, memperlihatkan dimensi berbeda dibandingkan latar belakangnya di Formula 1 bersama Haas F1 Team. Ia menilai bahwa kontribusi pembalap terhadap performa jauh lebih signifikan di MotoGP, terutama dalam kondisi balapan yang dinamis dan tidak stabil. Hal ini terlihat dari performa Enea Bastianini yang mampu mengamankan podium Sprint serta bangkit dari posisi start ke-12 hingga finis keenam pada balapan utama.
Steiner menekankan bahwa variabilitas performa di MotoGP sangat bergantung pada faktor manusia, bukan hanya paket teknis. Dalam konteks ini, adaptasi terhadap ban, kondisi lintasan, serta manajemen risiko menjadi pembeda utama antar pembalap. Dibandingkan dengan Formula 1 yang lebih terstruktur secara teknis, MotoGP menuntut respons instan dan presisi ekstrem dari setiap rider di setiap lap.

“Bagi saya, MotoGP adalah sesuatu yang baru. Ini adalah salah satu olahraga paling menarik di dunia. Ketika Anda terlibat langsung, Anda akan terkejut melihat seberapa kompetitif olahraga ini dan seberapa besar pengaruh pembalap terhadap hasil balapan,” ujar Steiner kepada MotoGP.com.
Observasi tersebut juga memperkuat pandangannya bahwa kemampuan teknis pembalap MotoGP melampaui persepsi umum tentang mengendarai sepeda motor. Dengan mesin berperforma tinggi dan batas cengkeraman yang sangat tipis, setiap keputusan kecil dapat berdampak langsung pada hasil balapan maupun keselamatan.
“Apa yang mereka lakukan di atas motor benar-benar luar biasa. Ini bukan sekadar mengendarai motor, ini adalah mengendalikan mesin luar biasa pada level tertinggi. Dari sudut pandang saya, secara manusia hampir mustahil melakukan apa yang mereka lakukan,” lanjutnya.
Selain aspek performa, Steiner juga menyoroti tingkat risiko yang menjadi bagian inheren dari MotoGP. Ia menggarisbawahi bagaimana pembalap tetap melanjutkan balapan meskipun mengalami kecelakaan, menunjukkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Hal ini, menurutnya, menjadi pembeda utama dibandingkan disiplin motorsport lain.
Di sisi lain, Steiner mengonfirmasi bahwa fokus utamanya saat ini adalah membangun fondasi jangka panjang bagi tim. Dengan kontrak antara Tech3 dan KTM yang akan berakhir pada akhir musim 2026, arah pengembangan menuju regulasi baru 2027 menjadi prioritas strategis. Regulasi tersebut mencakup penggunaan mesin 850cc dan pemasok ban baru dari Pirelli, yang akan mengubah karakteristik performa motor secara signifikan.
“Kami masih dalam tahap belajar. Enam bulan pertama adalah tentang memahami struktur tim dan operasional. Fokus saya bukan hanya balapan saat ini, tetapi bagaimana kami mempersiapkan masa depan, khususnya menuju 2027,” jelas Steiner.
Situasi kontrak pembalap juga menambah kompleksitas perencanaan tim. Enea Bastianini dikaitkan dengan potensi kembali ke Gresini Racing, sementara Maverick Vinales yang absen di COTA karena operasi bahu, disebut sebagai kandidat untuk posisi pabrikan di KTM menggantikan Pedro Acosta dalam skenario tertentu.
Dengan kombinasi faktor teknis, regulasi baru, dan dinamika pasar pembalap, peran manajerial Steiner menjadi krusial dalam menentukan arah kompetitif Tech3. Evaluasi awalnya terhadap MotoGP menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh mesin, tetapi juga oleh keberanian, adaptasi, dan ketahanan para pembalap.
Menuju seri berikutnya di kalender MotoGP 2026, perhatian akan tertuju pada bagaimana Tech3 KTM mengoptimalkan paket mereka di tengah persaingan ketat, sekaligus mempersiapkan transisi menuju era regulasi baru yang akan membentuk ulang lanskap kejuaraan dunia.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!