Setelah libur musim panas, Ferrari kembali ke lintasan di Zandvoort dengan membawa angin segar. Tim asal Maranello itu langsung memperkenalkan spesifikasi lantai dan diffuser baru untuk SF-26, menandai dimulainya fase baru dalam pengembangan mobil mereka musim ini.
Paket yang dibawa ke Belanda sebenarnya bukan upgrade penuh yang awalnya direncanakan. Ferrari memilih memecah program pengembangan, membawa solusi yang sudah matang lebih awal sambil memberi waktu tambahan untuk bagian lateral dari tepi lantai. Hasilnya, lantai yang dipakai di Zandvoort lebih banyak direvisi di bagian depan dan diffuser.
Menurut pemahaman The Race, bagian lateral tepi lantai yang baru akan hadir belakangan musim ini, dengan jendela waktu antara Baku di akhir September hingga Austin sebulan kemudian. Tanggal pastinya masih digodok.

Secara keseluruhan, paket Zandvoort diperkirakan memberi peningkatan performa sekitar 0,15 detik per lap. Ini bukan transformasi besar, melainkan penyempurnaan lain dari platform aerodinamika SF-26, melanjutkan evolusi lantai yang sudah diperkenalkan di Barcelona pada pertengahan Juni—setelah itu Ferrari memenangi dua dari tiga grand prix berikutnya.
Namun, hasil sejak kemenangan Silverstone di bulan Juli tidak semanis itu. Kini Ferrari datang ke Monza dengan secercah harapan gelar, terutama bagi Lewis Hamilton, dan tentu saja butuh sukses di kandang sendiri. Untuk memaksimalkan peluang, ini yang mereka lakukan.
Paket Monza Lebih dari Sekadar Sayap
Grand Prix Italia selalu menjadi salah satu balapan yang mendapat perhatian khusus dari Ferrari. Tapi tahun ini, signifikansi teknis balapan kandang mereka melampaui tradisi Monza bagi Maranello.
Di atas kertas, karakteristik sirkuit ini bisa lebih menguntungkan mobil bertenaga Mercedes dan Red Bull. Bagian full-throttle yang panjang menuntut tenaga dan manajemen energi yang optimal, sementara efisiensi aerodinamika tetap krusial. Ini bukan sekadar soal seberapa besar tenaga yang tersedia, tapi seberapa banyak downforce yang bisa dipertahankan untuk tingkat drag tertentu.
Menemukan konfigurasi yang tepat untuk SF-26 menjadi sangat penting. Dan di sinilah kerja Ferrari pada lantai memiliki tujuan kedua. Dengan aerodinamika aktif dan penggunaan mode straight-line yang ekstensif, kompromi yang dibutuhkan untuk Monza bisa jadi tidak seekstrem historisnya.
Sirkuit Italia ini biasanya identik dengan konfigurasi sayap downforce terendah musim ini, tapi The Race memahami Ferrari mengambil pendekatan yang sedikit berbeda dalam mencari drag rendah di 2026. Sayap belakang tentu akan jadi bagian dari adaptasi spesifik sirkuit, tapi itu bukan satu-satunya fokus kerja Ferrari.
Spesifikasi downforce tinggi diperkenalkan di Hungaria, dan beberapa elemennya—termasuk sayap belakang—akan diuji kembali di Monza. Ini menunjukkan bahwa Ferrari tidak hanya mengandalkan sayap untuk mengurangi drag, melainkan juga pada karakteristik lantai yang baru. Dengan kata lain, Monza akan menjadi ujian nyata apakah arah pengembangan yang diambil sejak Barcelona sudah tepat.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!