SPONSORED

Ferrari Dinilai Hadapi Ujian Pertama Hubungan Hamilton-Lec

Notifikasi
Ujang Suryana
Ujang Suryana
0
Ferrari Dinilai Hadapi Ujian Pertama Hubungan Hamilton-Lec
TO NEWS OVERVIEW
Charles Leclerc and Lewis Hamilton finished fourth and fifth in Zandvoort, but it could have been so much more

Lewis Hamilton dan Charles Leclerc mulai menjadi sorotan setelah Grand Prix Belanda. Will Buxton, komentator yang akrab dengan paddock, menyebut momen di Zandvoort itu sebagai 'ujian nyata pertama' bagi hubungan kedua pembalap Ferrari tersebut.

Pada balapan Minggu lalu, Leclerc sempat berada di posisi kedua dalam Sprint, tetapi di balapan utama, pace race SF-26 terlihat kompetitif. Namun, ketika Hamilton mendekati rekan setimnya, situasi menjadi rumit. Hamilton protes melalui radio karena tidak diminta untuk memberi jalan, dan bahkan melontarkan sindiran tajam: "Great way of wasting time, good job!"

Hamilton finis keempat, tepat di belakang George Russell, sementara Leclerc berada di posisi kelima. Setelah balapan, Hamilton menyatakan akan mengadakan diskusi tertutup untuk mengevaluasi kejadian tersebut, dan membandingkan cara kerja Mercedes yang dianggapnya lebih sigap. Namun, keesokan harinya, ia justru mengirim pesan penyesalan di media sosial dan memperingatkan rival bahwa "kami datang."

Shanghai Emerges as Favorite to Open 2027 F1 Season
Read AlsoShanghai Emerges as Favorite to Open 2027 F1 Season

Menurut Buxton, ini adalah momen krusial bagi tim asal Maranello. "Apakah ini ujian pertama hubungan Charles-Lewis?" tanyanya dalam podcast. "Charles adalah anak emas, Ferrari murni, mungkin tidak akan pernah pindah. Lalu ada Lewis, sang juara dunia tujuh kali. Anda tidak bisa menyenangkan keduanya. Di tim F1, satu pembalap pasti kecewa, yang lain senang."

ADVERTISEMENT

Buxton menambahkan bahwa pengalaman Hamilton di Mercedes memberinya standar tinggi tentang eksekusi tim. "Lewis terbiasa dengan tim yang langsung bertindak. Dia ingin mentalitas juara di Ferrari, karena tanpa itu, mustahil meraih gelar. Saya bisa melihat frustrasinya: 'kita membuat diri kita terlihat bodoh.'"

Pertanyaannya, apakah ini masalah Ferrari secara keseluruhan atau hubungan kedua pembalap? Seberapa cepat mereka harus mengatasinya? Dengan persaingan ketat di puncak klasemen, kemampuan Ferrari untuk mengelola dinamika ini akan menentukan apakah mereka bisa bersaing hingga akhir musim.

ADVERTISEMENT

Discussion (0)

Join the Discussion!

Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.

Fast, secure, and hassle-free

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

RECOMMENDED FOR YOU