Fabio Di Giannantonio pulang dari Silverstone dengan perasaan pahit. Enam besar di Grand Prix Inggris memang bukan hasil yang buruk, tetapi cara balapan itu berakhir membuatnya sadar: Ducati saat ini bukan lagi patokan utama di MotoGP. Yang tercepat? Aprilia, dan itu bukan lagi sekadar kejutan.
Pembalap Ducati itu mengaku sudah memacu motornya semaksimal mungkin. Ia mencoba mengatur ban belakang untuk bertahan hingga akhir, dan sempat membuat fans bersorak ketika mendekati Pedro Acosta dalam perebutan posisi kelima. Namun, jaraknya masih cukup untuk membuatnya gigit jari.
“Saya melakukan yang terbaik yang saya bisa. Saya mencoba mengelola ban belakang untuk akhir balapan dan saya melakukannya dengan baik, tapi ban depan saya hancur. Ini persis yang terjadi sejak awal musim. Sudah lama saya bilang kita harus meningkatkan paket kami: meskipun sangat bagus, itu tidak cukup untuk mengalahkan Aprilia,” ujarnya, dikutip dari Motosan.es.

Di Giannantonio menggambarkan situasinya seperti selimut yang terlalu pendek. “Sekarang selimutnya kurang: jika kami memaksakan ban depan, ban itu habis, dan sebaliknya terjadi pada ban belakang. Sulit untuk dikelola. Saat ini kami adalah kekuatan kedua di kejuaraan, yang pertama adalah Aprilia. Kami tahu sirkuit ini akan menjadi luar biasa bagi mereka, tapi perbedaannya besar,” keluhnya.
Namun, ia tidak mau hanya mengeluh. Di Giannantonio berharap Ducati bisa mengejar ketertinggalan itu. “Semoga, sungguh. Aprilia mulai bekerja hebat sejak paruh kedua musim lalu dan sekarang Anda bisa melihat empat pembalap mereka selalu di depan. Kami hanya sesekali muncul di antara mereka, tapi saat ini kami selangkah di belakang.”
Menariknya, ia juga menyoroti performa Marc Marquez yang berhasil menempel ketat dengan Aprilia di awal balapan. “Marc berhasil tetap dekat dengan Aprilia di awal dan finis dekat dengan saya. Level sebenarnya memang seperti itu,” katanya.
Di Giannantonio juga buka suara soal start yang kacau karena insiden di tikungan pertama. “Saya sedikit kehilangan konsentrasi di tikungan pertama: saya melihat banyak percikan api, mengira ada kecelakaan, dan kehilangan posisi.” Meski begitu, ia tetap berpikir jernih soal masa depan. “Saya merasa perbedaan yang kami miliki sekarang tidak memungkinkan kami masuk ke pertarungan, jadi kami harus mencari sesuatu yang lebih.”



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!