Wajah Marc Marquez di ruang tunggu podium Red Bull Ring berbicara lebih keras dari kata-kata. Di Austria, Ducati tidak sekadar kehilangan kemenangan—mereka kehilangan momentum. Kekecewaan terpancar jelas: ekspektasi untuk memperpanjang tren positif usai Aragon dan Misano harus pupus, digantikan kenyataan pahit bahwa Aprilia kembali mengungguli mereka, dan Marquez hanya finis kelima pada Minggu.
Dampaknya langsung terasa di klasemen. Marquez kehilangan 12 poin dari Jorge Martin, dan kini ia wajib tampil agresif di Motegi untuk mengejar ketertinggalan. Tekanan pun beralih ke seluruh tim Ducati Corse, yang menyadari bahwa kesalahan kecil bisa berbuah fatal di sisa musim.
Davide Tardozzi, Team Manager Ducati Corse, tidak menyembunyikan kekecewaannya. “Kami tidak menyangka akan kehilangan begitu banyak poin di Austria,” ujarnya kepada gpone. “Sekarang kami harus bereaksi di balapan-balapan berikutnya. Ada beberapa sirkuit di mana, melihat masa lalu, lawan kami jauh lebih kompetitif. Tidak akan mudah: kejuaraan masih terbuka, tapi situasinya sudah cukup rumit. Kami telah sampai pada titik di mana kami harus menyerang.”

Pernyataan Tardozzi menggema di paddock. Ia lalu mengutip pelajaran dari Casey Stoner, juara dunia 2007 bersama Ducati. “Seperti yang diajarkan Casey Stoner kepada saya, paruh pertama kejuaraan dihadapi dengan kepala, dan paruh kedua dengan hati,” tambahnya. Kata-kata itu bukan sekadar retorika—ini adalah panggilan untuk bertarung habis-habisan, mengingat sisa musim yang menuntut keberanian ekstra.
Mengapa Austria menjadi titik balik? Red Bull Ring seharusnya menjadi kandang Ducati, tempat mereka mendominasi dalam beberapa tahun terakhir. Namun Aprilia tampil dengan paket teknis yang lebih matang, terutama dalam manajemen ban dan kecepatan di tikungan. Sementara Ducati kesulitan menemukan setelan ideal untuk kondisi trek yang berubah-ubah. Kini, fokus beralih ke Motegi—sirkuit dengan karakter pengereman keras dan traksi yang menguji limit motor. Ducati harus bangkit, atau melihat rival semakin menjauh.
Dengan kejuaraan yang masih terbuka, setiap poin menjadi berharga. Tardozzi tahu bahwa Ducati tidak punya pilihan selain menyerang. “Kami harus menyerang,” tegasnya. Dan dengan filosofi Stoner yang membara, mereka berharap bisa membalikkan keadaan sebelum terlambat.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!