Pabrikan ban asal Jepang, Bridgestone, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa vakum panjang mereka dari kejuaraan dunia FIA setelah terakhir kali berlaga di ajang grand prix pada musim 2010. Langkah besar ini menandai kembalinya merek ternama tersebut ke kancah motorsport internasional setelah bertahun-tahun mengalihkan fokus global mereka pada sponsorship Olimpiade serta Paralimpiade.
Kesepakatan strategis berdurasi empat musim telah resmi diteken, menempatkan Bridgestone sebagai pemasok ban tunggal resmi untuk era generasi keempat atau Gen4 Formula E yang akan dimulai dari kampanye 2026/27 hingga musim 2029/30, menggantikan peran Hankook. CEO Bridgestone, Yasuhiro Morita, mengungkapkan bahwa dorongan kuat untuk kembali ke level tertinggi balap internasional ini datang langsung dari dalam perusahaan itu sendiri.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Morita menjelaskan dinamika di balik keputusan penting tersebut. Setelah mengakhiri keterlibatan di Formula 1 pada tahun 2010 dan beralih mendukung ajang olahraga multi-cabang global, pihak internal perusahaan merasa ada elemen krusial yang hilang dari portofolio teknologi mereka, yakni produk yang benar-benar berada di pusat pengembangan performa tinggi.

"Sangat menyenangkan tentu saja," ujar Morita menggambarkan antusiasme kembalinya merek tersebut. "Setelah kami meninggalkan Formula 1 pada 2010, kami mendukung Olimpiade, Paralimpiade, dan acara olahraga lainnya. Itu juga luar biasa bagi kami sebagai platform global yang sangat kuat. Apa yang hilang adalah produk di pusat dukungan tersebut. Jadi itu dalam arti tertentu, meski tidak langsung, membantu kami meningkatkan teknologi kami."
Tekad kuat dari para pegawai di dalam perusahaan menjadi motor penggerak utama di balik realisasi proyek ambisius ini. Morita menyebutkan bahwa mayoritas besar karyawan mendesak manajemen untuk membawa kembali merek asal Jepang tersebut ke pentas dunia motorsport di bawah naungan FIA.
"Dan kebanyakan dari rekan setim kami, saya bisa katakan, saya tidak menghitungnya, tapi sekitar 99 persen, saya katakan, benar-benar berkata, 'Kami ingin kembali, kami ingin kembali ke Kejuaraan Dunia FIA.' Bridgestone adalah perusahaan global, bukan perusahaan lokal, dan semua orang ingin kembali. Jadi suara para karyawan ada di sana, dan itu membantu saya serta tim manajemen untuk melangkah maju dengan hal ini," imbuh Morita.
Bagi Morita sendiri, momen ini membawa nuansa emosional yang mendalam karena mengingatkannya pada masa awal ia bergabung dengan perusahaan pada April 1996 silam, tepat sebelum dimulainya era petualangan mereka di ajang Formula 1 dari 1997 hingga 2010. Saat ini, Bridgestone berada di peringkat kedua produsen ban global di bawah Michelin, setelah sempat menduduki singgasana teratas selama 11 tahun berturut-turut sebelum tergeser pada 2021.
Ambisi Bridgestone tampaknya tidak berhenti pada kategori Formula E saja. Berdasarkan berbagai laporan dari sumber terpercaya di paddock, pabrikan raksasa ini juga tengah membidik peluang untuk kembali masuk ke kancah Formula 1 dengan mengincar tender pasokan ban untuk musim 2029 mendatang, menyusul serangkaian diskusi eksploratif yang telah dilakukan di sela-sela balapan akhir pekan di Singapura dan Amerika Serikat.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!