Peluang emas meraih podium ganda di GP Singapura musnah setelah Lewis Hamilton mengambil keputusan strategi mandiri yang berujung petaka. Memulai balapan 62 lap dengan ban medium, juara dunia tujuh kali itu sebenarnya berada di jalur yang tepat untuk bersaing di barisan depan bersama rekan setimnya di Ferrari, Charles Leclerc. Namun, keputusan kontroversial di tengah balapan membuat posisinya merosot drastis.
Masuk ke pit pada Lap 18 untuk mengganti ban lunak, Hamilton awalnya diprediksi akan menjalani strategi dua kali masuk pit. Akan tetapi, ketika muncul kesempatan melakukan pit stop murah di bawah Virtual Safety Car menyusul insiden mobil Aston Martin yang dikemudikan Lance Stroll, pebalap asal Inggris tersebut justru memilih bertahan di lintasan. Keputusan inisiatif sendiri ini memaksanya bertahan dengan set ban yang sama selama 44 lap penuh hingga garis finis.
Dampak dari keputusan nekat tersebut langsung terasa ketika balapan memasuki fase akhir. Laju kecepatan mobilnya menurun drastis secara signifikan, menyebabkannya harus rela kehilangan posisi kelima dari pebalap McLaren setelah disalip menjelang akhir lomba. Alih-alih mengamankan podium ketiga, ia harus puas finis di posisi keenam yang terasa sangat mengecewakan bagi kubu Kuda Jingkrak.

Kritik tajam pun langsung dilayangkan oleh mantan pebalap F1 yang kini menjadi pengamat, Martin Brundle. Menurut Brundle, sangat sulit bagi seorang pebalap untuk mengendalikan mobil modern sekaligus merancang strategi tim secara langsung dari balik kokpit saat balapan tengah berlangsung dengan intensitas tinggi.
Melalui kolom analisisnya, Brundle menuliskan, “Hamilton mulai keteteran seiring berjalannya balapan setelah start dengan ban medium segar. Secara aneh, ia tidak masuk pit lagi meskipun ada kesempatan melakukan pit stop murah saat Virtual Safety Car akibat mobil Lance Stroll yang harus dievakuasi.”
Menyadari kesalahan besar yang telah diperbuatnya, pebalap Ferrari tersebut langsung menyampaikan permintaan maaf melalui radio tim usai balapan berakhir. Ia mengakui bahwa keputusannya melakukan judi strategi telah memberikan pelajaran yang sangat menyakitkan dalam perburuan hasil maksimal musim ini.
Melalui akun media sosial pribadinya, ia menegaskan tanggung jawab penuh atas hasil tersebut. “Kemarin bukanlah hasil yang kami cari, dan itu sepenuhnya kesalahan saya. Di sirkuit yang sulit untuk melakukan overtake, Anda harus mencoba sesuatu yang berbeda dan saya memilih strategi yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil,” ungkapnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!